Cerpen: "Aku Masih Hidup"

Langit malam tampak pucat hari ini. Tak ada bintang, tak ada bulan. Hanya ada asap rokok yang kuhembuskan dari mulutku yang bau minuman keras. Rasanya ingin mati saja. Bahkan aku berharap, percikan api kecil dari rokokku ini terbang dan masuk ke mulutku, lalu meledakkanku sekarang juga karena mendarat di rawa Topi Miring.
Aku sudah melakukan hal-hal yang diluar norma. Aku tak sedang patah hati, tidak. Aku bahkan belum pernah menyukai perempuan manapun. Ayahku bisa menghidupiku. Berarti aku bukan orang miskin. Bukan pula karena percekcokan kedua orangtuaku. Mereka sudah bercerai, tanpa ada konflik yang aku tahu.
Fuuh, aku jadi memikirkan teman-teman satu band-ku yang dulu. Ambisi kami adalah untuk bisa terkenal. Kami sangat senang dengan apa yang kami berikan, dan apa yang kami dapat. Waktu pertama masuk SMA, band-ku selalu manggung di setiap acara. Bahkan sekolah lain meminta kami untuk manggung waktu pesta perpisahan mereka.
Waktu itu kami sedang manggung di gym SMA 21 yang sebesar dua lapangan basket. Mereka mengadakan prom night, yang tak pernah diadakan oleh sekolah kami. Mereka berdansa berpasangan, memakai gaun bagus dan tuksedo pinjaman yang warnanya mengkilat. Kami sedang memainkan Pretty Fly (For A White Guy) waktu bass yang kubetot tak bisa bunyi. Perasaanku sudah gak enak. Betapa paniknya aku waktu itu.
Jimo, yang waktu itu memegang mic menyuruhku untuk tenang dan tetap memainkan bass, meski tak bunyi. Tapi aku seperti lepas kendali. Kami bercekcok di sela-sela Jimo menyanyi. Lalu Engga yang waktu itu berada di antara kami jadi terpengaruh. Dia salah memainkan kord gitar, dan entah kenapa dia jadi blank dan lupa pada semua kord yang harus dimainkan. Tentu saja itu akan sangat mempengaruhi permainan drum. Andri yang kebingungan hanya bisa memukul-mukul drum.
Parahnya, aku lupa kalau di depanku ada mic.
“Bego lo semua!” Bentakku. Dan itu terdengar di seluruh ruangan.
Band berhenti. Semua orang memandang kearah kami. Bukan. Mereka memandangku. Jimo mengerutkan jidatnya, membanting mic dan pergi meninggalkan kami. Semua orang bersorak merendahkan, sambil melempar apapun yang mereka pegang ke arah kami. Dan terpaksa kami harus turun panggung.
“Kenapa bisa jadi begini?” Tanya Andri dengan nada tinggi padaku jauh di belakang panggung.
“Apa lagi,” Sambung Jimo yang duduk di kursi sambil melipat kedua tangannya. “Aku sudah menyuruhnya tenang dan mainkan saja bass-nya! Tapi Si Jenius ini terlalu panik.”
“Kalau begini caranya, kita gak akan digaji.” Tambah Engga. “Dan gak akan ada lagi sekolah yang mau mengundang kita manggung.”
“Apa maksudmu?” Tanyaku.
“Ah, gak. Cuma—” Engga memutar matanya, “—kita gak akan dapat job manggung lagi kalau begini caranya. Kita sudah gagal tiga kali seminggu ini.”
Suasana diantara kami benar-benar tidak enak. Sepertinya kami terpenjara oleh lingkaran yang kedap suara. Teriakan orang-orang diluar sana sama sekali tak terdengar.
“Ada apa dengan kalian?” Tanyaku setengah membentak. “Bukanya kita dulu sepakat bikin band bukan untuk makan gaji? Hey, kemana Spiderwings yang dulu?”
Jimo berdiri dan mendekatiku. Sebelumnya aku tak tahu apa yang akan dilakukannya. Tapi tiba-tiba dia menarik kerahku dengan kasar. “Idiot. Kalau begitu untuk apa kita bikin band? Biar ditaksir sama cewek-cewek? Ngaca! Kamu tuh kayak mayat hidup! Siapa yang mau naksir sama kamu juga kalau kamu gak punya duit?”
“Lepas!” Aku meninju pipi Jimo dengan keras, hingga ia terpental dan melepaskan tangannya dari kerahku. Aku melihat darah keluar dari ujung bibirnya.
“Heh! Apa yang kamu lakuin, bodoh?!” Bentak Andri. “Kamu sadar gak, sih? Ini semua kan salahmu! Kita tiga kali salah seminggu ini ya gara-gara barang rongsokanmu itu gak bisa bunyi, kan? Dan kamu selalu panik gara-gara itu!”
“Yang melenceng itu kamu!” Tambah Engga.
Aku benar-benar tersinggung dan tidak terima. Rongsokan? Aku menabung dengan susah payah untuk membeli bass bekas itu. Dengan langkah berat dan sangat kesal, aku meninggalkan mereka bertiga dan pulang ke rumah naik becak.
Semalaman aku memikirkan tentang perkataan mereka. Mereka benar. Aku yang mulai panik duluan. Salah kalau aku tersinggung, itu pasti. Aku juga yang memukul Jimo yang begitu baik hati padaku yang selalu menenangkan ketika terjadi kecelakaan seperti itu. Aku telah membuatnya berdarah. Bukan hanya Jimo. Semua telah aku bikin ‘berdarah’.
Pagi, hari Minggu yang cerah. Tapi hatiku tetap merasa mendung dan gelap gulita. Sambil menuangkan susu ke sereal cokelat seperti biasa, aku menekan tombol on/off pada remote untuk melihat kartun di Indosiar. Sebelum kupindah ke channel itu, TV lokal menayangkan sebuah berita. Berita kecelakaan.
Ew, pembaca beritanya laki-laki. Aku jadi gak minat. Aku hampir menekan tombol untuk mengganti channel ketika sebuah mobil yang sudah remuk sedang disorot. Panter hitam keluaran tahun ’92, dan sepertinya sudah tak asing lagi. Si pembawa berita mengatakan korban tewas tiga orang, diketahui masih berstatus pelajar di sebuah SMA di Kota.
Mayatnya disamarkan. Jadi gak kelihatan siapa. Aku mengambil HP dan berniat menghubungi Engga. Dia pasti tahu sesuatu, ayahnya polisi bagian seperti ini—entah apalah namanya, terserah. Tapi tidak ada yang menjawab. Dua kali, tiga kali aku mencoba menghubunginya. Tetap seperti itu. Sedang apa sih dia?
KRIIING
Aku melonjak kaget mendengar suara telepon rumah yang tiba-tiba berbunyi. Rasanya tanganku berat untuk mengangkatnya.
“Halo?”
“Ry, hiks… Jimo, Ry… Jimo…” Suara dari sana terdengar sesak. Suara Fey, pacar Jimo. “Jimo kecelakaan… sekarang di rumah sakit…”
Tercekat, aku tak bisa berkata apa-apa. Sial, ada apa ini? Suaraku tak bisa keluar. Seperti ada paku besar yang menancap di kepalaku dan menembus tubuhku hingga ke dalam tanah.
Kututup teleponku dan berlari ke garasi. Karena panik, aku jadi tak bisa memasukkan kunci ke sepeda motor. Begitu bisa, giliran mesinnya gak mau hidup. Begitu hidup, ternyata bensinnya habis! Aku memaksa motorku untuk berjalan tapi baru sampai di gerbang motorku sudah mati.
“Motor sial!” Pekikku. Aku sudah tak bisa berpikir lagi. Nekad aku berlari menuju ke rumah sakit yang jauhnya sekitar dua kilometer dari rumahku.
Sesampainya disana, aku langsung bertemu dengan adik Jimo yang menangis hingga maskaranya luntur. Kami berjalan menuju ke kamar Jimo. Tapi adiknya tidak menuntunku ke kamar pasien. Melainkan kamar mayat.
Aku semakin tak bisa bernafas melihat teman-teman baikku terbujur kaku penuh luka di atas tempat tidur seng yang dingin. Fey menangis dan pingsan di bahu ibu Jimo. Keluarga Engga dan Andri juga.
Ini tak mungkin. Ini pasti mimpi. Mimpi buruk. Bangunkan aku! Kumohon, bangunkan aku sekarang juga, Jim!
Rasanya tubuhku memberat. Aku jatuh berlutut di sebelah jenazah Jimo. Hina. Hina rasanya!
Seminggu setelah kejadian itu, aku dihubungi oleh kantor polisi. Mereka bilang kasus ini murni karena kecelakaan, mengingat mobil yang teman-temanku tumpangi terseret oleh truk yang menyalip mereka. Jadi tak perlu aku khawatir, dan bisa kembali ke sekolah setelah seminggu tidak masuk.
Bodohnya mereka. Ini semua salahku. Aku membentak mereka. Aku memarahi mereka sebelum mereka kecelakaan. Aku bahkan memukul Jimo hingga ia berdarah.
“Kami menemukan sebuah benda yang masih bagus di bawah jok penumpang. Di dalamnya tertulis nama Anda. Dari pihak kami akan mengantarkannya ke rumah Anda.”
Dan begitulah. Benda itu diantarkan ke rumahku oleh dua orang polisi. Dibungkus kalp, aku bisa mengira-ngira isinya. Setelah polisi itu pergi, aku melihat sebuah bass merah baru yang masih sangat bagus. Benda itu mengkilat, bahkan ketika aku mengeluarkannya dari tempatnya. Bau darah sangat menyengat ketika aku mencoba memainkannya.
Betapa senangnya aku waktu aku tahu mereka membelikan bass terbaik di kota ini untukku. Tapi betapa sedihnya aku mengingat kebodohanku ketika mereka membicarakan tentang uang. Aku telah membunuh sahabat terbaikku!
Saat itu juga aku pergi ke pemakaman dan menabur mahkota mawar di atas makam ketiga sahabatku itu. Seperti orang gila, aku berbicara sendiri. Berbicara pada nisan mereka yang masih bagus, memohon-mohon untuk dimaafkan. Mereka mungkin mendengarku, tapi tidak memaafkanku. Ah, sungguh bodohnya aku.
Berjam-jam berada di pemakaman, aku mulai berdiri. Bahuku menatap punggung seseorang. Kami sama-sama mengaduh.
“Oh, maaf. Aku gak tahu ada orang di belakangku.” Ujarku.
“Ya, sama-sama, aku juga minta maaf.” Lelaki itu sebayaku, mungkin. Dia mengenakan seragam sekolah swasta yang kelihatannya mahal. Wajahnya sedikit chinesse, tapi punya mata yang agak besar. “Hey, kamu anak Smansix?”
“Dari mana kamu tau?” Tanyaku heran.
“Lho, kamu nggak ingat, ya? Kita kerja sama waktu ada stuba.” Katanya. Sepertinya anak ini bersemangat sekali. “Waktu itu anak-anak kelasku jadi murid Smansix dalam seminggu, dan kita sekelas. Ingat, gak?”
“Oh, pantesan aku pernah lihat seragammu.” Aku memandang matanya. Dia memakai kacamata tebal. “Apa matamu parah?”
“Iya, lumayan. Sebenarnya aku malu pakai kaca mata, hehehe….” Orang ini sangat cengengesan. “Oh, iya. Apa ada saudaramu yang—permisi, maaf sebelumnya—meninggal?”
“Tidak.” Aku melirik nisan Jimo dengan sayu. “Teman baikku meninggal karena kecelakaan.”
“Oh, aku turut berduka cita. Tapi sudahlah, jangan terlalu dipikir. Kalau kamu gak ikhlas, jalan-nya disana akan nyendat, loh…” Hiburnya sambil menepuk-nepuk bahuku. Dia melihat jam tangannya, lalu ekspresinya berubah. Ketika pandangannya lepas dari jam tangan, wajahnya seperti bersinar kembali. “Maaf, ya. Aku ada janji dengan orang. Aku permisi dulu.”
Dia berlari pergi. Tanpa terlalu mempedulikan, aku kembali ke rumah. Entah kenapa, aku jadi ingin kembali ke sekolah. Jadi esok harinya aku mengenakan seragam dan berangkat ke sekolah. Sepertinya tidak ada yang berubah. Hanya saja, sekarang aku sendirian waktu makan di kantin.
“… Ah, iya, Ruki dari SMA Valrus, kan? Iya, waktu stuba disini dia memang paling menonjol. Ganteng, lagi. Suaranya juga oke punya. Pokoknya…” Aku menguping cewek-cewek yang duduk di depanku. Mereka sedang asyik gosipin orang, sambil tertawa-tawa. “… bla bla bla…”
Valrus. Anak yang kemarin juga dari Valrus, dilihat dari seragamnya.
Beberapa hari kemudian, aku pergi ke toko kaset untuk membeli album baru My Chemical Romance, waktu itu yang keluar Three Cheers For Sweet Revenge, 2004. Di toko kaset, aku bertemu kembali dengan anak dari Valrus itu. Dia bersama seorang cowok tinggi yang agak kendor lengannya. Maksudku, dia sedikit gemuk. Dia menyapaku, cengengesan seperti terakhir kali bertemu.
“… makanya kami kesini, emm….?” Dia menungguku menyebutkan nama.
“Ryan.”
“Waw, kita sama-sama berinisial ‘R’ ya! Hahaha….”
Garing.
“Kamu juga suka My Chemical Romance?” Tanyanya dengan semangat. “Musik mereka asik buat dimainin, ya. Apa kamu tahu kordnya Helena?”
“Bego. Itu kan lagu baru. Memang sudah ada yang jual kordnya di majalah murah?” Sambung si badan besar. “Aku bisa meramalkan MCR baru akan terkenal empat tahun lagi.”
“Bawel.” Ujar si cengengesan itu. “Bagaimana juga aku pengen maenin lagu-lagu mereka. Sayang, aku gak punya band. Adekku gak bisa diajak bisnis kayak Gerard gandeng Mikey. Payah, ah.”
Aku diam saja. Jadi teringat teman-teman, nih.
“Eem, gak jadi beli ah.”
“Apa?” Tanyaku agak kaget. “Jadi kamu ngapain disini?”
“Aku? Aku sih, sering kesini buat dengerin lagu baru yang diputer sama yang punya toko ini.” Jelasnya. Lalu dia berpamitan dan pergi entah kemana.
Apa dia tak tahu fungsi dari radio dan TV, ya? Ah, bodo amat.

###

Akhir-akhir itu aku jadi semakin sering melamun. Di rumah, aku masih suka memainkan bass pemberian rekan Spiderwick yang masih bau darah. Entah, tapi aku seperti tak ingin menghilangkan bau darah ini. Seakan bass merah ini menyatu dengan baunya. Risih memang, kalau kau jadi aku, mungkin. Tapi bagiku, ini adalah tanda mereka peduli padaku.
Beberapa hari kemudian aku bertemu lagi dengan si Cengengesan dari Valrus itu ketika aku mau pulang ke rumahku yang ada di luar kota. Dia bersama dua orang temannya. Saat itu hari minggu, dia mengenakan kaus merah tanpa lengan. Waktu melihat aku cuma bawa bass, dia pikir aku baru membeli bass itu dari toko musik.
Bodoh.
“Hey, gimana kalau kita main band?” Tanya anak Valrus itu spontan.
Kedua temannya langsung menyetujui dan aku dipaksa olehnya untuk bergabung. Aku sudah menolak hampir tiga perempat tenagaku. Tapi mereka tetap memaksaku. Aku ‘diculik’, dibawa ke sebuah studio band di kota. Aku bahkan tidak mengenal mereka, tapi mereka seperti sok akrab denganku. Yah, apa boleh buat. Aku cuma ikut main saja. Karena mereka sendiri bingung mau main genre apa.
“Emo saja!” Salah satu dari mereka mengusulkan. “Kita bisa mainin The Used atau My Chemical Romance, kan? Itu kan band favoritmu, Ki!”
“Apa? Ah, gak juga. Aku sebenarnya lebih suka Laruku daripada MCR. Eh, gimana kalau kita mainin J-rock saja? Japanese Rock…” Ujar si Cengengesan dari Valrus.
“Gak bisa gitu, dong. Band dari Jepang yang aku tau kan cuma Laruku. Kalau kita maen J-rock, berarti kan sama aja kita membajak sawah orang laen.” Ujar yang satunya.
“Kita main semua yang kita bisa.” Tambahku, memotong perdebatan mereka. “Satu saat maen punk rock, saat lain kita main alternative, di tempat lain kita main J-rock, kalau manggung di panti jompo kita main pop, kalau belum puas kita bisa bikin genre sendiri: comb-ice, alias es campur!”
Sejak itu kami mulai dekat. Aku baru tahu kalau namanya Ruki sejak hari itu. Beberapa kali kami manggung di kafe-kafe, dia sangat fasih dan menjiwai setiap lagu yang ia nyanyikan. Aku ingat cewek-cewek yang menggosipkan dirinya waktu di kantin sekolah. Memang suaranya sangat bagus. Berat, tapi melayang di udara. Apalagi waktu menyanyikan Joujoshi dan Pieces. Sangat berbeda dengan cara Hyde atau Derek membawakannya, tapi aura mereka seperti terpancar dari Ruki. Dia seperti bisa menguasai semua lagu dari semua genre.
Beberapa bulan kemudian aku baru tahu kalau dia keturunan Jepang!
Suatu sore, satu tahun setelah kematian Jimo dan dua sahabatku yang lain. Aku baru selesai menabur bunga di pemakaman mereka. Sambil menggendong bass yang mereka hadiahkan padaku, aku tersenyum lega, dan berjalan dengan langkah ringan—tidak seperti tahun lalu—menuju ke studio untuk berlatih band. Hari ini kami berempat akan merekam demo lagu kami sendiri. Kami juga sudah memutuskan untuk main gente apa: alternative punk. Selangkah lagi menuju impianku untuk bisa terkenal. Aku akan bersemangat!

Sampai di studio, Edrik dan Dimi sudah menunggu. Tapi aku belum melihat si jelek Ruki. Tidak seperti biasanya dia datang terlambat. Setahuku, dialah yang paling rajin untuk latihan band.
“Hey, dimana Ruki?” Tanya Dimi sambil mengetuk-ngetukkan stik drumnya tidak sabar.
Aku sedang menstem kembali bass kesayanganku ketika HP-ku bergetar.

FROM : Ruki
Sury hr ni ku ga sa ikt Latian band cuz ku dsrh nemenin nyokap. Latian ndiri dL. Ku bkL cpt bLik ko… Jangan menyerah. Ttp semangat, okey…! 

“Ew, Ruki gak bisa ikut. Dia disuruh nemenin nyokapnya.” Ujarku, mengulang SMS dari Ruki.
“Aaaah, terus siapa yang mau ngisi vokalnya kalau dia gak ada?” Dengus Edrik. “Kita gak bisa merekam lagu kalau gak ada vokalisnya. Nanti…”
Sembari mereka mengoceh tak jelas, aku berusaha menghubungi si bodoh Ruki. Tapi tak pernah nyambung. Di layar HP-ku selalu tertulis disconnected. Tidak biasanya HP Ruki dimatikan. Dia bilang akan selalu online 24 jam untuk kami. Sialan.
Sebagai alternatif, aku mengirimi dia SMS. Tapi sampai tiga hari SMS itu masih pending. Apa dia ganti nomor? Atau nomornya diblokir? Tak pernah ada jawaban tentang semua itu. Berbulan-bulan Ruki tak pernah kembali. Semua SMS yang aku kirimkan failed.

###

Musim berganti, matahari berpindah posisi. Edrik dan Dimi kesal karena Ruki tak juga kembali dan menepati janjinya. Sekuat tenaga aku meyakinkan mereka agar tidak gegabah untuk meninggalkan band. Aku berusaha menyemangati mereka untuk tetap berada di posisi mereka sampai Ruki kembali. Walaupun sebenarnya aku juga sudah merasa lelah karena ditinggal begitu saja. Rasanya, habis manis sepah dibuang. Tapi aku tetap mencoba bertahan.
“Gak! Aku sudah komit dengan band lain. Aku gak tahan berada disini. Band ini bullshit!” Dimi membentakku pada suatu malam.
Akhirnya, band kami bubar.
Baru kuingat satu hal penting. Aku sering bolos les untuk main band. Aku juga jarang masuk sekolah karena ambisiku. Aku baru sadar ketika kulihat kalender yang terpajang di dinding kamar. Tiga hari yang kulingkari warna merah, seperti mengejarku dari belakang dengan sangat cepat. Aku baru sadar: bulan depan Ujian Nasional!
Kuputuskan untuk kembali ke jalurku untuk sementara. Sebulan aku belajar dengan sungguh-sunguh. Kukunci bass ku di lemari dan kuminta tetanggaku untuk menyimpan kuncinya, agar aku bisa konsentrasi. Waktu itu, Ujian Nasional yang diujikan masih hanya tiga mata pelajaran. Aku optimis aku pasti bisa lulus. Tapi tetap banyak hal yang membayangi. Aku sering tidak lulus dalam masalah ‘ujian’; aku pernah tidak diterima di sebuah SMP karena tidak lulus tes masuk, juga tak lulus ujian masuk paskibra waktu kelas X.
Kekecewaanku kulampiaskan dengan main band bersama Jimo. Kami yang ‘hampir’ senasib bertekad untuk balas dendam dengan menjadi terkenal dengan band yang kami dirikan. Tapi ternyata Tuhan menuliskan jalan-Nya lain dengan rencana yang kami tulis dengan tangan kecil kami yang lemah.

###

Sebulan kemudian.
Ujian Nasional diadakan hari Selasa, besok pagi. Aku mengaktifkan HP-ku yang sudah sebulan kumatikan. Sedikit banyak berharap Ruki menghubungiku. Dia juga harusnya sedang deg-degan menjelang Ujian Nasional. Aku mencoba menghubunginya. Tapi malah operator yang menjawab.
Ah, sialan.
TOK TOK
“Ryan, Ryan!” Panggil seseorang dari luar sambil mengetuk pintu.
Aku membukakan pintu, dan melihat Fey berdiri sambil memamerkan sebuah kunci motor. Aku melihat ke belakangnya, dan sebuah motor keluaran baru mengkilat menyilaukan mataku. “Motor baru?”
“Ayo jalan-jalan.” Ajak Fey.
Aku mengernyit. “Becanda lo? Besok ujian, kan?”
“Iya, karena besok adalah ‘hari penentuan hidup atau mati’,” Fey menggenggam tanganku dan memaksaku untuk membonceng dengan sedikit kasar. Aku heran kenapa Jimo dulu tergila-gila sama dia. “Ayo kita jalan-jalan untuk menyegarkan pikiran. Ke warnet aja deh, gak usah jauh-jauh.”
“Ah, bilang aja kamu mau ngadem.” Dengusku.
“Ehehe, ketauan deh…” Fey menjulurkan lidah.
Rasanya aku hanya dibohongi sama si Fey jelek ini. Dia menyuruhku untuk membayar billnya. Dasar anak sinting. Tapi senang juga melihatnya sudah tidak termehek-mehek seperti waktu itu. Bagus dia dibelikan motor sama bonyoknya, deh, kalau gitu.
“Hey,” Fey duduk di sebelahku sambil memelototi monitor. “aku tadi nemuin band dari Jepang, lho. Aku coba dengerin lagunya, bro. Bagus. Setelah saya jelajahi, vokalisnya ganteng banget!”
“Apa sih?” Tanyaku heran. Aku tahu Fey memang suka bentuk-bentuk manusia bersuara bagus.
“Minggir.” Dia mengusirku. Lalu dengan sigap membuka sebuah website tentang band baru yang sedang melejit di Jepang. Gambar di layar memunculkan lima cowok dengan dandanan norak kayak bus yang mental karena ketabrak becak. Tapi tetap kesannya keren. Dan cantik. Si vokalis memakai topi koboi, dengan rambut yang dibleaching merah marun darah yang sudah tercampur dengan karbondioksida dan memakai kontak lensa yang sewarna. “Iiih, ganteng banget! Apalagi—menurut informasi—dia tuh masih SMA, seumuran kita! Andai Jimo masih ada, aku pengen dandanin dia kayak nih cowok!”
Tunggu. Aku pernah melihat cowok ini. Wajahnya familiar. Rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat. “Fey, coba kudengerin lagu mereka, deh.”
Setelah kudengar-dengar, suaranya juga familiar. Gak mungkin. Gak mungkin kalau ini adalah ‘dia’. “Fey, siapa nama vokalisnya?”
Fey mencari di biografi band itu. Beberapa detik kemudian Fey membacakan nama yang tercantum di biografi si vokalis bermata merah itu. “Eem, nama marganya Seiryo. Nama depannya, eemm,”
Aku tak sabar menunggu Fey memutar-mutar kursor. “Cepat, siapa namanya?”
“Ruki.”
DEG.
Tercekat. Nafas seperti tak mau berhembus. Darah mendidih di otak. Suara Fey tak bisa terdengar. Tangannya tak terasa menyentuh kulit. Panca inderaku mati. Aku benar-benar marah. Aku marah. Sangat marah. Ruki. Itu Ruki! Ruki dari SMA Valrus yang bodoh, jelek, berkacamata, dan cengengesan itu!
“Anjing!” Teriakku ketika sudah sampai di rumah. “Bajingan! Bangsat! Fuck off!” Aku terus menghujat Ruki yang tak bisa mendengarku. Memekik, menjerit sekuat tenaga. Aku tak peduli semua tetanggaku melihat keadaanku sekarang. Untuk apa aku peduli? Bangsat mereka semua. “Bullshit kamu, Ruki idiot! Kamu bilang mau terkenal bersamaku! Pembohong! Pembohong!”


Semalam aku tak bisa tidur. Aku tak bisa belajar. Tiga hari ujian, tak ada satu soalpun yang bisa kukerjakan. Sebulan kemudian sekolah menyatakan aku adalah satu-satunya murid yang tidak lulus Ujian Nasional. Aku begitu hancur. Hancur berkeping-keping. Dan kepingan itu terbang terbawa badai topan. Aku ingin mati. Ingin mati rasanya! Menyesal, kenapa dulu aku tak bersama teman-temanku di Spiderwings saja ketika kecelakaan maut itu terjadi. Harusnya itulah yang terjadi, kan?
Aku gagal. Pecundang yang tak pernah berhasil sekalipun dalam hidupnya. Aku tidak lulus. Orangtuaku bercerai. Tuhan begitu adil padaku. Apa yang kukerjakan dengan sungguh-sungguh, semuanya digagalkan. Apa yang tak kukerjakan dengan sungguh-sungguh pun ikut gagal. Sudah, mati saja.
Persetan dengan ‘ingin menjadi terkenal’.
Tuhan tak akan mengabulkannya.
Sekarang beginilah aku. Duduk di sebuah warung remang-remang sendirian. Minum-minum, merokok, berusaha bunuh diri pelan-pelan dengan merusak paru-paru dan saraf otak. Sudah dua bulan aku tak pulang ke rumah. Tidak ikut ujian Paket C. Bersama preman stasiun, aku merampok, mencuri. Hidup sebagai seorang pecundang yang malah senang dikejar-kejar Satpol PP. Aku juga pengedar ganja yang dikejar-kejar polisi. Tertawalah, karena ini lucu sekali. Lucu. Sampai aku ingin membunuh orang saking lucunya.
Aku adalah orang paling hina di dunia ini.
Kuhisap lagi rokok ini. Mataku masih tak bisa melihat dengan jelas, dan kepalaku seperti geleng-geleng tak jelas ketika seseorang berdiri di depanku. Tapi aku tak peduli. Tetap kuhisap rokokku.
Dia tiba-tiba merebut botol miras yang kugenggam dan melemparkannya ke warung remang-remang hingga botol itu pecah dan isinya membasahi hampir semua barang dagangan yang ada. Aku tetap tak peduli. Baru kubuka mataku, mendongak marah, ketika ia mencomot rokok dari mulutku dan melemparkannya ke warung itu. Dia menarikku dengan sangat kasar dari tempat dimana aku duduk tadi.
Tak lama kemudian terjadi suara ledakan dan api yang berkobar-kobar. Aah, aku pasti sedang mabuk berat.
PLAAAK
“Auch…” Aduhku. Orang itu memukul pipiku dengan sangat, sangat keras. Rasanya sakit. Aku mengadah, dan melihat seorang laki-laki dengan wajahnya yang menyeramkan memelototiku. Lho, gak mungkin itu dia. Aku benar-benar mabuk berat. “Lho, Jimo? Jimo kan? Ngapain kamu disini?”
Dia menarik kerahku dengan kasar, lalu memukul pipi kanan, kemudian pipi kiri. Aku bisa merasakan darah yang amis dan sedikit asin masuk ke mulutku. Darahku sendiri. Aku masih tidak bisa menyadarkan diri. Yang aku tahu adalah kerah bagian belakangku ditarik olehnya, dan aku diseret ke suatu tempat: Kantor Polisi!
Setelah aku diserahkan ke Pak Polisi yang berkumis tebal, dia berlalu begitu saja. Aku memperhatikannya. Cara dia berjalan beda sekali dengan Jimo. Lagipula rambut Jimo gak mungkin segondrong itu. Maksudku, memang rambutnya belum melebihi bahu, tapi Jimo bukan orang yang suka dandan dan mengurusi rambut. Tapi, tadi, waktu dia memelototi dan memukulku, seperti aku dihadapkan pada Jimo yang hidup kembali.
Pak Polisi menyeretku dengan kasar. Tapi aku mencoba bertahan dengan melihati cowok itu berjalan keluar. Ketika diambang pintu, dia menoleh kearahku sejenak. Aku bisa melihat ia menoleh sambil mengenakan sebuah kacamata. Ia memandangku dari balik kacamata yang menggantung di hidungnya itu. Kemudian ia pergi begitu saja. Betapa kagetnya aku. Aku sangat shock, karena baru menyadari: dia Ruki!
“Anjing! Kembali kamu kesini, woey!” Bentakku setengah berteriak sambil berusaha lepas dari genggaman polisi. Dia kembali menoleh tapi tetap berjalan. “Pembohong! Manusia setan! Bukan, kamu bukan manusia! Lepasin! Ruki! Anjing laut! Kembali kamu kesini, hey, pembohong! Bangsat! Bajingan, kau!”

###

Lagi, Ruki tak juga kembali. Aku terpenjara di lembaga pemasyarakatan selama dua bulan kurang lebihnya. Entah apa ini membuatku sadar atau tidak. Aku malu kembali ke rumah. Malu bukan pada orang. Tapi pada diriku sendiri. Diam-diam aku ke sekolah untuk mengambil raporku, dan pergi ke kota lain. Aku hidup di sana sendirian, berpindah dari masjid ke masjid, dan tak jarang menginap di gereja atau klenteng. Aku sudah tak punya tujuan hidup.


###


Sudah sangat jauh dari rumah saat aku sedang tiduran di bangku panjang yang diletakkan berjejeran sambil melihat ke langit-langit gereja yang terbuat dari gym yang penuh ukiran. Hidup berpinah dari satu tempat suci ke tempat suci lainnya membuatku sangat kelelahan. Aku ingin tidur di kasur. Aku ingin makan sayur.
Aku harus dapat kerja.
Seketika itu pula aku melonjak berdiri. Keluar dari gereja dengan mata yang terbuka. Melihat matahari bersinar dengan sangat terang memanasi kulitku yang sedingin ikan teri yang disimpan di freezer. Aku mulai meleleh dan merasakan hidungku kembali mengejar udara dan menggandengnya masuk ke paru-paru. Aku masih hidup!
Kembali kuinjakkan kaki di trotoar, aku melihat seorang bapak separuh baya sedang menggenggam telepon dan menempelkannya rapat-rapat di telinga. Di tangan lain ia memegang sebuah map plastik tebal, dan beberapa buku yang kukira jumlahnya lebih dari 500 halaman. Ada juga beberapa buku yang ia jepit di ketiaknya. Dia sedang berjalan tergesa-gesa kearahku ketika beberapa anak bermain skateboard menabraknya dan membuat kertas-kertas jatuh beterbangan dan landing ke paving segi lima.
Refleks aku membantu memunguti buku-buku dan kertas-kertas yang berjatuhan. Pak itu seperti tidak peduli—atau tidak bisa peduli, saking sibuknya berbicara dengan orang lewat HP-nya yang kelihatan sangat mahal. Ia mungkin tidak sadar kalau ia habis ditubruk sama anak ingusan bau kencur.
“Nak, tolong bawakan.” Perintahnya. “Kubayar kau.”
Kau tahu apa yang kurasakan? Aku senang. Berapapun dia membayarku, lah. Yang penting aku bisa makan.
Aku membawakan bukunya sampai ke sebuah gedung yang sangat tinggi, seperti di ibukota. Ini memang ibukota, tapi bukan di ibukota negara melainkan provinsi. Dia masih mengajakku membawakan bukunya ke kantornya yang ada di lantai atas. Aku malu masuk ke gedung itu karena merasa diriku kotor, dekil, tak pantas berada di sana.
“Nah, tolong letakkan disitu.” Beliau menunjuk meja besar di balik jendela besar. Seluruh kota bisa dilihat dari atas sini. “Baik, saya mengerti. Saya akan cepat sampai di States beberapa bulan lagi, jika tidak ada halangan…”
Aku hanya bisa menunggu.
Menunggu diusir.
Bapak itu menutup HP-nya dan berjalan kearahku. Aku hanya bisa menunduk. Biasanya tingkah orang kaya memang seperti itu, kan?
“Kau tinggal dimana?” Tanya Laki-laki separuh baya itu padaku, sambil menggenggam bahuku.
“Ah, oh, itu—” Aku tergagap. Mana mungkin aku bilang kalau aku kabur dari rumah. “—anu, itu… eng,”
“Ha ha ha,” Bapak itu tertawa sebentar. “Nanti ikutlah denganku ke rumah. Panggil saja Pak Soetoro. Tapi, apa kau punya KTP? Sini, berikan padaku.”
Sungguh. Sumpah, aku sangat—sangat amat—senang sekali mendengar ucapan pak Soetoro. Aku gembira beliau mengajakku ke rumahnya. Aku diberi kamar kecil di paviliun yang terpisah dengan rumah utama, di pojok halaman belakang rumah yang sangat luas. Hanya dengan jaminan KTP aku bisa tidur nyenyak lagi. Aku sungguh bersyukur.
Tanpa mengeluh aku bekerja mencabuti rumput liar, menanam tanaman bersama Ny. Soetoro, menjadi supir siap sedia, dan bahkan membantu Ny. Soetoro di dapur. Aku senang menemani keluarga yang belum dikaruniai anak ini.
Berminggu-minggu aku hidup nyaman disana sebagai pembantu. Begitulah aku sekarang. Berbeda dengan kehidupanku dua tahun lalu yang mengidamkan ketenaran sebagai anak band. Aku ingin tertawa jika memutar lagi memoriku. Tapi sekeras apapun usahaku untuk menghapuskannya, nyala api masa lalu terus berkobar. Jimo dan Ruki.
“Ryan, kemarilah, kami ingin bicara.” Ny. Soetoro memanggilku, di malam hari. Beliau sedang bersama Pak Soetoro di gazebo halaman depan rumah. Mereka menunggu aku duduk, baru mulai berbicara. “Ryan, kamu bilang dulu tidak lulus Ujian Nasional?”
Aku mengangguk.
Mereka saling menatap, lalu tersenyum kecil. Terbesit di pikiranku mereka akan memecatku. Oh, tidak. Aku harus menyiapkan mental. Aku terlalu kerasan berada disini.
“Bagaimana kalau,” Ny. Soetoro menarik nafas. Senyum kecil mengembang di bibir kecilnya membentuk seperti senyum pisang. “Kalau kau melanjutkan saja sekolahmu. Tapi tidak disini.”
Aku membelalak kaget. Hampir-hampir shock. “Apa Anda berniat menyuruh saya kembali ke sekolah?”
“Iya,” Pak Soetoro mengiyakan, mengangguk. Beliau merogoh saku dan memberikan selembar kertas kecil padaku. Itu KTP. “Ikutlah dengan kami. Kami akan menyekolahkanmu di Missouri. Kami sudah memroses paspormu. Kau tinggal foto saja. Jadi, kemungkinan dua minggu lagi kita berangkat.”
DEG DEG DEG DEG DEG DEG
Bohong! Missouri? Itu kan di Amerika! Aku terbata-bata, tak bisa bicara apa-apa. Kalau aku sekolah disana, maka ijazahku bukan dari negara. Ijazahku akan menjadi milikku sendiri, memakai bahasa inggris, bertuliskan United States of America. Ooh, Tuhan, sekarang aku benar-benar ingin mati!


Keluarga Soetoro memboyongku ke Kota Kansas, salah satu kota di Missouri. Aku bersekolah disana. Temanku banyak, dan mereka ramah padaku. Setiap kali liburan aku diajak jalan-jalan. Berkencan dengan cewek pirang yang seksi, mampir ke Time Square di New York, menonton siaran TRL secara live, dan diajak teman baikku makan siang di River Café, dibawah Golden Gate, tepi sungai Mississipi yang lebarnya minta ampun. Aku juga sempat menonton MTV Video Music Awards 2006, dan melihat secara langsung Paris Hilton membacakan nominasi. Aku juga sempat bertatapan mata dengan Brendon Urie, vokalis Panic! At The Disco yang waktu itu mendapat penghargaan tertinggi.
Musik kembali menggema di dalam diriku. Bersama beberapa teman aku kembali membuat band. Kami memang masih manggung kecil-kecilan, tapi lama kelamaan kami mulai dapat job dimana-mana, khususnya di daerah Kansas. Belum begitu banyak memang, tapi karena temanku banyak, kami jadi lumayan dikenal. Bandku bahkan menjadi band pembuka di wrapped tour Motion City Soundtrack dan Taking Back Sunday.


Ahaha, inilah hidup yang kuinginkan. Thanks God. Aku benar-benar bersyukur. Semua yang menyibukkanku disini tak membuat aku gagal dalam ujian. Aku lulus dengan ijazah bertuliskan Kansas High School. Itu sungguh sangat keren. Bahkan aku tak pernah membayangkan ini sama sekali.
Tapi ada seseorang yang masih terus mengganjal di kepalaku. Bukan seseorang, lah. Beberapa orang. Aku rindu kampung halamanku. Kedua orangtuaku—meski mereka tak lagi seranjang, dan teman-temanku yang lain.
Ny. Soetoro mengizinkanku pulang dan melanjutkan kuliah di Indonesia saja. Tapi dengan catatan, akan kembali pada keluarga itu jika studiku sudah selesai, mengingat mereka tidak memiliki penerus. Aku senang dengan yang mereka tawarkan. Sudah cukup aku mendapatkan kasih sayang lebih dari orangtuaku sendiri. Tapi aku akan pulang dan membangun kembali Spiderwings yang sedang mati suri. Menghiudupkan kembali mereka.
Aku dan teman-temanku di Missouri berjanji akan tetap kontak melalui MySpace, dan mendemokan lagu bandku yang akan datang disana. Tentu. Aku berjanji akan secepatnya meng-upload lagu-laguku di MySpace untuk mereka dengarkan.
Aku pulang ke negaraku dengan bahagia.
Di sebuah universitas ternama di Jakarta, aku menuntut ilmu manajemen. Sambil terus belajar, aku membangkitkan kembali Spiderwings yang telah lama mati. Dengan formasi baru: Dimi, Fikko, Ben, aku, ditambah Fey, menggantikan Jimo di posisi lain. Suara Fikko gak kalah sama Jimo ataupun Ruki. Style mereka berbeda. Tapi kami tetap Spiderwings. Di tengah dentuman musik pop dari band-band banci di tahun itu, kami bisa bertahan dengan lagu-lagu indie kami, hanya dengan modal internet dan radio. Tahukah mereka kalau kami sudah go international?
Teman-temanku di Missouri hampir selalu memberi komentar yang membuatku takjub dan terharu-haru. Mereka amazed sama lagu yang kuciptakan untuk dua sahabat terbaikku.
Kini hidupku terasa lebih berwarna.
BLEP BLEP BLEPH
HP-ku berdering. Aku melihat nomornya, bukan nomor sini. Kodenya bukan kode Amerika. Bukan juga kode Indonesia, bahkan Australia. Aku berpikir sejenak. Ini kode negara mana, ya?
“Hallo,” Sapaku dari sini. Saat itu aku sedang berada di halaman kampus bersama Dimi.
“Moshi-moshi,” Ujar suara di seberang sana. “Hajimemashite, bakayaro?”
“Ngomong apa sih? Ini siapa?” Tanyaku agak jutek. Maklum, akhir-akhir ini banyak orang iseng yang meneleponku.
“Ya ampun, sombong. Kamu sudah lupa sama aku?”
Aku melongo tak percaya. Dimi jadi ikut ngiler melihatku saking dia penasaran. “Ruki!”
“Hai`—! Nah, gitu donk. Jangan mentang-mentang sekarang gak kalah terkenal dibandingin aku, kamu jadi sombong.” Ujarnya dengan logat yang sudah berbeda dengan logatnya yang dulu. Tapi masih dengan suara yang khas.
“Apa sih maksudmu?” Tanyaku pura-pura bego. Aku me-loudspeak HP-ku agar Dimi juga bisa mendengarkan si jelek Ruki ini.
“And I’ll defeat my own best friend. Apa itu maksudnya?” Tanyanya disana jutek. Aku tahu dia cuma pura-pura untuk menggodaku. Mungkin dia tahu kalau aku membuat lagu itu untuknya. Ah, tidak juga. Aku juga membuat lagu itu untuk sahabatku yang ada di surga.
“Asal kamu tau, ya, heh, bego, dengerin…,” Kataku. Senyumku mengembang. “Aku gak akan kalah sama kamu,”
~~~