[FICTION] Tropical Scent of Yours

WARNING : SUDAH MELALUI MAJOR EDIT TAHUN 2018

listening to : none
mood : flat


title : Tropical Scent of Yours
genre : fluff, a little of angsty chapter : oneshot/drabble
word count : 864
author : Hotaru
summary : Kau tidak akan menyadari betapa kau mencintai pasanganmu sampai kau bertengkar dengannya.
comment : saya sedang ingin menulis ala novel XD




Tropical Scent of Yours
:)

Kau tidak akan menyadari betapa kau mencintai pasanganmu sampai kau bertengkar dengannya. Di setiap jarak yang terbentuk diantara kalian, rasa sakit dan rasa rindu membaur menjadi satu. Menjadi sebuah kawah lava yang sangat panas dan kau sama sekali takut untuk menginjaknya. Kau berpikir bahwa kau mulai membencinya, terlalu membencinya karena dia sangat keras kepala. Dia tidak lagi memikirkanmu, tidak lagi mengerti perasaanmu, tidak lagi mau tahu apa yang sebenarnya kau inginkan.

Dengan mengusirnya dari kamar yang selalu menjadi naungan cinta kalian, yang selalu menjadi tempat dimana kalian mencurahkan segala mimpi, kau berpikir semuanya akan berubah. Setidaknya rasa sakit hati yang kau derita secara instan dapat secara instan pula pergi, tak perlu mengatakan selamat tinggal. Kau menangis diantara kedua lututmu yang kau peluk erat. Kau merasa dadamu ingin meledak, marah, takut, dan rindu. Dia tidak seharusnya berbuat seperti itu, pikirmu. Otakmu terasa berasap hingga kau bisa mencium kepulannya yang bau bara karena terlalu banyak memikirkannya. Pertengkaran yang terjadi sepuluh menit yang lalu. Hanya karena sebuah hal kecil bernama lelucon.

Memang, leluconnya sama sekali tidak lucu untukmu. Dia tidak seharusnya melakukan hal itu. Tidak dikala kau sedang merasa sangat tertekan dan kurang tidur karena pekerjaanmu yang menumpuk dan meraung meminta untuk segera diselesaikan.

Tapi sepuluh menit berlalu dan kau berada di dalam kamar seperti waktu tiba-tiba berhenti berputar. Kau sendirian. Kau hanya bisa melihat remang lampu tidur berwarna jingga dan jam digital yang menunjukkan angka 11:45pm. Kau tidak melakukan apa-apa selain terisak. Kau terlihat menyedihkan, bahkan cerminpun seperti menolak keberadaanmu.

Disanalah kau melihat gitarnya. Gitar itu baru saja dimainkan olehnya, kau secara persis tahu akan hal itu. Dia selalu meletakkan gitarnya di dekat pintu setelah memainkannya. Itu adalah kebiasaannya yang kau hafal diluar kepala. Gitar itu berwarna keperakan dan sedikit banyak mengandung sesuatu yang gemerlap. Di bagian atas dari tubuh gitar itu terpatri jelas stiker nama band kalian. Dan kau teringat kembali bagaimana kau menemukan seseorang yang kau kasihi itu. Bagaimana sifat kekanak-kanakannya yang membuat kau suka padanya. Bagaimana perlahan ia menjadi dewasa seiring umurnya yang bertambah. Bagaimana tubuhnya yang kecil itu terasa pas di dalam pelukanmu.

Disaat itulah kau menyesali semuanya.

Kau merindukannya. Kau tiba-tiba merasa bersalah yang mendalam. Cukup dalam hingga rasanya kau membuat sendiri sebuah palung di hatimu. Dia berniat membantumu. Dia juga pasti lelah dengan semua pekerjaan yang mengejar kalian—kau bukan satu-satunya orang yang merasakannya, kan? Kalian satu band—tetapi dia selalu ada disana bersamamamu. Dia tidak pernah jauh dari pandanganmu. Dia selalu ada disana, di sisi kiri tubuhmu, dengan pandangan mengagumi yang ia lontarkan padamu di setiap saat. Kini ketika dia berusaha menghiburmu dengan cara yang sedikit berbeda, kau mengusirnya. Sosok kecil yang malang itu.

Tanpa aba-aba kau beranjak ke pintu kamar. Kau mengusap kedua matamu dengan punggung tanganmu, membasahinya, berusaha membuat pipimu kering dengan cepat. Kau perlahan membuka pintu yang tadi kau banting sangat keras itu. Keras seperti kepalamu yang menuduh kekasihmu sendiri keras kepala. Kau menarik anak pintu itu sangat pelan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Ketika spasi yang dibuat oleh pintu yang terbuka itu memberi celah untukmu keluar dari penjaramu sendiri, matamu berkeliling mencarinya. Mencari sosok yang sangat kau rindukan itu.

Ruang tengah sangat gelap. Tidak ada cahaya yang menyinari tempat yang suram itu selain cahaya televisi. Tersiar disana acara talk show tengah malam yang sama sekali tidak menarik. Ia tidak akan melihat acara semacam ini, pikirmu. Lalu kau menemukan dirinya disana, duduk diatas karpet yang tidak menjamin dirinya tetap hangat. Dia duduk bersila dan membungkuk. Kau melihat siluet wajahnya yang terkena cahaya televisi; tanpa ekspresi, kosong. Ia tidak menangis. Belum.

Kau perlahan mendekatinya, berusaha tidak menimbulkan suara apapun.

Lalu kau mengulurkan kedua tanganmu yang panjang. Kau melingkarkannya di lehernya. Kau memeluknya dari belakang, sesuatu yang suka kau lakukan. Kau duduk dibelakangnya dan menyandarkan dadamu di punggungnya, menyamankan diri. Dia selalu terasa nyaman. Dia selalu terasa seperti rumah untukmu. Sekali lagi tapi bukan untuk yang terakhir kalinya, tubuhnya selalu terasa pas di dalam pelukanmu.

“Maafkan aku—” Ucapnya, tanpa merasa kaget atas kehadiranmu. Dia sudah menantimu, kau secara persis mengetahui hal itu.

Kau juga tidak kaget. Kau selalu terlambat, dia selalu lebih cepat. Kau merasakan setetes air terjatuh dari langit—tidak. Itu air matanya. Air mata itu terasa dingin dan menyakitkan, tapi kau membiarkannya. Kau menyukainya. Tetes demi tetes air menyusul dan membasahi lenganmu yang melingkar di lehernya.

“Maafkan aku karena aku tidak seperti yang kau inginkan. Aku—”

“Shh...” Kau menginstruksikan agar ia tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Sudah cukup untukmu. Kau tahu apa yang akan dia katakan. Rasa rindu ini telah menang diatas segalanya.

Kini yang kau inginkan hanya satu; tetap bersamanya seperti ini. Keheningan yang nyaman ini. Kehangatan yang manis. Kau mencium bagian belakang kepalanya. Kau merasakan setiap inci wangi rambutnya. Harum tropis, ciri khas yang tidak lagi ada duanya. Harum yang selalu membuatmu tenang dan bisa berpikir secara lebih jernih. Betapa kau menginginkan agar tidak lagi terpisah dengannya. Betapa kau sadar bahwa tidak ada lagi yang kau cintai selain dirinya yang malang itu. Betapa kau ingin dia tetap berada di pelukanmu selamanya. Betapa kau mencintainya. Kau tahu betul bahwa setiap kali kau bertengkar dengannya, maka rasa cinta dan sayang itu akan semakin bertambah besar setiap detiknya.



* * OWARI * *

4 comments:

  1. Shou jahat ah =3= #plak

    Hotaru salam kenal!! saia Reader setia(?) Anda, tp g perna komen soalnya di hp saia ga bisa komen >_<"

    Shoupon Forever pokonya mah >w<)bb

    ReplyDelete
  2. heeee ... haru yang di twitter yak? X33
    salam kenal, arigatou sudah setia pada shoupon (?)
    keep support their love !! *api masa muda membara* XDD

    ReplyDelete
  3. DEMI APAPUN INI FFIC KEREN BANGET HOT GYA

    ReplyDelete
  4. aiiiih arigato yuuuu X33

    ReplyDelete