[ShouxHiroto] Parallel World

Title : Parallel World
Chapter : 1/1 - oneshot
Author : Hotaru
Pairing : Shou x Hiroto
Genre : fluff, slice of life
Rating : PG
Warning : FIC-CEPTION. Contains of lots of insulting words and sentences, dan karena ini hanya sebuah fanfic jadi apapun yg ada didalamnya tolong jangan dimasukkan ke hati~ (=0=)b
Disclaimer : I hate writing disclaimers because everyone knows I want to own Shou for myself don't own them. But this work is mine.

Summary : Hanya sebuah cerita sederhana tentang kehidupan paralel seorang penulis...

PARALLEL WORLD
- oneshot -

Aku ingin berhenti menulis. 
Aku tak tahu, entah sejak kapan, aku tak lagi merasakan kesenangan yang biasanya kudapatkan ketika jemariku menari diatas keyboard. Lagipula, aku tak tahu apa lagi yang harus kutulis. Aku lelah dengan semua cerita cinta yang ujungnya sama. Sepasang kekasih yang tak direstui, cinta segitiga yang terasa sangat bodoh, atau dua orang yang dulunya bermusuhan, tentang kehidupan sekolah dan penindasan, tentang seorang lelaki yang memuja pujaan hatinya yang bodoh yang tidak sadar bahwa ada seseorang yang menyukainya, serta banyak stereotipe lainnya. Dan semua akan berakhir dalam dua pilihan: kebahagiaan selamanya, atau peti jenazah. 
(...)

*-*-*-*

“Sudah selesai?” Tanya Hiroto.

Aku mengangguk, lalu mendesah. Kurenggangkan badanku, kedua tanganku kuangkat keatas. Setelah mengeluarkan suara yang meyakinkan Hiroto bahwa aku lelah, aku mengambil Café Brown yang tak lagi panas diatas meja dimana kami duduk malam itu. Kusesap cangkirku seakan airnya masih mendidih. Mm, kopi dengan gula karamel, favoritku.

Hiroto mengambil laptopku dan menggesernya hingga layarnya memantulkan cahaya ke kulitnya yang bersih. Kuperhatikan editor dari Ekitai Hoshi Publishing itu membaca dan memindai karangan singkatku. Wajahnya begitu serius, dan ia sepertinya tak menghiraukan salah satu matanya yang tertutup poni rambutnya yang berwarna pirang terang.

Aku baru mengenalnya selama—mungkin—dua atau tiga minggu, sejak ia menghubungiku setelah ia menemukan blog jurnalku. Ia seorang editor muda yang entah bagaimana tertarik dengan cerita-cerita manipulatif yang kubagi disana, di jurnalku dimana aku berbagi cerita secara gratis, dan ia bilang ia akan membantuku merilis sebuah buku.

Tidakkah anak ini cukup manis? Maksudku—ia tak hanya positif, ia manis—‘manis’, semacam imut dan berparas tak berdosa. Aku suka rambut pirangnya. Cocok dengan image-nya.

“Shou-kun, apa ini? Tidak fokus!” Hiroto berkomentar. Kulihat alisnya yang juga pirang terangkat, walaupun nada suaranya terlalu positif untuk disebut sebagai kritikan.
“Maa... kau lihat aku menyelesaikannya dalam tiga puluh menit.” Aku mengangkat bahuku. “Lagipula aku berhasil membuat Kazamasa terkesan menyebalkan, ya, kan?”

Memutar matanya, Hiroto kembali menghadapkan layar laptop kearahku. Ia memegang sebuah pena di tangan kanannya, dan ia mengetuk-ngetukkan ujungnya di layar itu. Seandainya laptopku belum tua, mungkin aku akan memarahinya. Tapi tak apalah, karena Hiroto manis, aku memaafkannya.

“Kazamasa memang menyebalkan—dia bahkan sangat menyebalkan, tapi kurasa tidak ada koherensi antara bagian pertama dan bagian kedua—setelah ia menceritakan tentang ‘sasaran pasar’.” Ia memutar ujung pena itu, menunjukkan bagian yang ia rasa tidak ada sangkut pautnya. “Di paragraf-paragraf awal kau sama sekali tidak menyebutkan tentang arogansi Kazamasa. Pembaca akan berpikir secara literal bahwa ia ingin berhenti menulis karena ‘pasar’, bukan karena ia cemburu dengan teman-teman seagensi, atau hal lain.”

Aku menggigit pipi bagian dalamku.

“Tidakkah ceritanya bagus?” Tanyaku.

Giliran Hiroto yang mengangkat bahunya.

“Tidak.” Jawabnya. “Aku sudah bilang, tidak ada koherensi antara bagian satu dan bagian selanjutnya.”
“Hey, kau tahu?” Aku menunjuk Hiroto dengan jari telunjukku. “Masa bodoh. Yang penting tujuanku tercapai—membuat pembaca sebal dengan Kazamasa. Tidakkah poinnya sudah bagus?”

Kami saling berpandangan cukup lama, dalam diam tentunya.

“Tidak.” Ujarnya mantap. “Aku sudah bilang pada Boss bahwa aku akan membantumu merilis sebuah buku. Setidaknya satu saja, tapi kalau hasilnya seperti ini, uji coba ini rasanya tak ada gunanya, Shou-kun...”
“Aaargh! Baiklah, baiklah!” Aku menarik kembali laptopku dan kuarahkan pointernya ke paragraf ketiga.

Sialan, dia terlalu imut untuk ditolak.

Kuusap wajahku dengan kedua telapak tangan, berpikir. Aku diam beberapa saat sebelum akhirnya kembali menarikan jemari-jemariku diatas keyboard, menambah dan mengurangi apapun yang mungkin.

Sembari mengetik aku berpikir, jangan-jangan empat atau lima tahun lagi aku akan berakhir seperti Kazamasa, dan Hiroto-lah yang menjerumuskanku kesana—kearah archetypism, sebuah sebutan yang kukarang sendiri karena istilah mainstream terlalu biasa. Sesekali sembari mengetik aku mencuri pandang kearahnya. Oh, bolehkah kumaki dia? Aku tahu dia seorang editor, tapi ketika aku disini mengetik apa yang dia inginkan, apakah layak ia mengiris sedikit demi sedikit kue krim keju dan memakannya dengan sangat nikmat? Dan strawberry yang digigitnya itu—ah, aku bisa dibuatnya gila dengan sangat mudah.

Shou, fokus. Kau tidak mau dibantah oleh seseorang yang empat tahun lebih muda darimu, bukan? Lagipula, kau akan mendapatkan perhatiannya nanti.

Hora,” Aku mendorong laptop tuaku karahnya ketika aku selesai. Ia dengan segera berhenti makan, dan menerima laptopku, dan mulai kembali serius membaca hasilnya. “Oh, dan aku merubah semuanya.”

Aku tertawa, sembari kembali mengambil kopiku yang sudah dingin.

*-*-*-*-*

Membaca cerita ini membuatku ingin berhenti menulis.
Aku tak tahu, entah sejak kapan, aku tak lagi merasakan kesenangan yang biasanya kudapatkan ketika jemariku menari diatas keyboard.
Menjadi seorang penulis tentu adalah sebuah pekerjaan yang menyenangkan untukku, selama beberapa tahun belakangan ini, sejak buku pertamaku diluncurkan ke khalayak umum. Banyak kenalan dan teman kudapatkan dari pekerjaan ini. Sebagian besar adalah orang-orang biasa yang suka membaca, sebagian lain adalah penulis-penulis lain, dan sebagian sisanya orang-orang dari agensi percetakan. Awalnya, oh, tentu, menyenangkan. Setiap kali aku masuk kedalam kantor selalu ada orang yang memuji bukuku. “Bagus!”, “Kau sungguh berbakat, Kohara-kun!”, “Kohara, aku puas dengan kerjamu!”, dan bla, dan bla bla. Sampai saat inipun gajiku terus mengalir lancar dan aku masih belum pernah mendapatkan apa yang disebut dengan kritikan pedas. Pujian terus terungkapkan dan orang-orang di kantor mengatakan bahwa penggemarku semakin melunjak, membuatku sangat senang berada di industri ini.
Tapi kini, aku tak tahu apa lagi yang harus kutulis. Semua isu terasa biasa saja dan tidak ada apapun yang bisa melempar adrenalin jauh keatas seperti tornado atau bola daging raksasa. Maksudku, tidak ada lagi tema selain sepasang kekasih yang tak direstui, cinta segitiga yang terasa sangat bodoh, atau dua orang yang dulunya bermusuhan, tentang kehidupan sekolah dan penindasan, tentang seorang lelaki yang memuja pujaan hatinya yang bodoh yang tidak sadar bahwa ada seseorang yang menyukainya, serta banyak stereotipe lainnya. Dan semua akan berakhir dalam dua pilihan: kebahagiaan selamanya, atau peti jenazah.
Dan aku paling tidak suka dengan pilihan kedua. Menurutku, bahkan walau ia hanya karakter fiksi yang diciptakan oleh sebuah fantasi, ia juga memiliki hak untuk hidup bahagia. Maksudku, aku tidak suka dengan penulis yang selalu menyiksa tokoh utamanya dari awal hingga akhir—tak berarti aku tak suka dengan cerita bergenre tragis, disini aku hanya menekankan bahwa seseorang tak selamanya menderita—dan tragis tak selalu berarti mati. Bahkan Shakespeares menceritakan betapa bahagianya Romeo ketika pertama kali bertemu dengan Juliet, pertama kali mereka berdansa, dan betapa bahagia Juliet ketika membayangkan ia akan hidup bahagia bersama pujaan hatinya ketika ia terbangun dari efek racun yang diminumnya. Walau, yah, berakhir secara tak terduga.

Aku benar-benar tak mengerti, apakah tidak ada lagi yang bisa menulis sebaik aku didunia ini—selain Shakespeare. Aku lelah dengan semua cerita cinta yang ujungnya sama saja. Tidak bisakah mereka menulis seperti aku, yang memperhatikan lingkungan sekitar dan menjadikannya sebuah fiksi yang bernilai tinggi. Karya-karya baru tak lain hanyalah sesuatu yang berbanding lurus dengan sampah plastik. Instan, sulit terurai, dan tidak berarti.
Perasaan inilah yang mendorongku ke ujung bangku, ketika aku tak lagi suka membaca apapun yang murahan yang disuguhkan padaku diatas meja kopi. Membuatku pergi dari semuanya, melarikan diri dari kenyataan yang sangat menggangu dan melelahkan mata.
Memang, terlalu banyak cerita tentang cinta dan aku muak dengannya. Selalu ada cacat disetiap karangan dan aku tak pernah mendapatkan sesuatu yang benar-benar ‘menarik’ didalamnya. Apalagi semenjak kehidupanku dan intensiku terhadap karanganku sendiri menurun drastis secara tiba-tiba, ketika aku dikenalkan oleh sebuah sebutan yang awalnya kupikir hanya ada dalam kamus bisnis dan jalur-jalur saham yang tersambung dengan benang tak kasat mata: market shot. Sesuatu yang membuat imajinasi manusia menjadi terbatas, dan mereka tak menggunakan otak mereka secara maksimal.
Entah sejak kapan aku tak suka melihat teman seagensi—seorang penganut paham archetypism yang lain mendapat pujian dari orang yang tak kukenal dan mungkin ia tak mengenalku. Dengan sangat percaya diri dalam hati aku selalu berpikir, seharusnya mereka mengenalku, seharusnya semua orang tahu siapa diriku, karena aku yang membawa isu seperti ini pertama kali ke publik. Karyaku jauh lebih baik daripada karya mereka, aku membawa pesan dan moral. Setiap karyaku bersenjatakan simbol dan metafora, dan seharusnya semua orang tahu hal itu.
Aku haus akan pujian, itulah yang membuatku merasa muak dengan segala hal stereotipe—karena aku dan karyaku adalah spesial. Aku jauh lebih baik dari semua orang. Aku...
... Kazamasa, kau pikir siapa dirimu?
“Bukan siapa-siapa. Hanya seorang brengsek.” Aku mengumpati diriku sendiri. Kututup kedua telingaku dengan kedua telapak tangan, sikuku diatas meja, dan dengan mata yang tertutup, kutundukkan kepalaku dalam-dalam.
“Kopi Anda, Tuan,” Kudengar suara seorang perempuan, seorang pelayan, sembari meletakkan secangkir Café Brown yang kupesan. Kopi kedua yang kupesan hari itu.
Dan demi Tuhan, aku akan berhenti menulis dan menghilangkan diriku didalam bayangan. Aku tak mau menjadi satu dengan para penganut paham archetypism itu.

*-*-*-*-*

“...Wow.” Hiroto akhirnya membuka mulutnya. “Kazamasa benar-benar sombong dan menyebalkan. Rasanya aku ingin membunuhnya sekarang.”
“Benarkah?” Aku terkekeh. “Apa itu sudah membuatmu puas?”
“Mm, cukup.” Hiroto mengangguk—tapi jika tak benar-benar diperhatikan, anggukannya nyaris tak terlihat. “Masih butuh banyak editing, tapi lebih baik daripada yang pertama.”

Aku terkekeh. Editor ini benar-benar keras kepala.

“Seperti dugaanku, kau memang berbakat.” Komentar Hiroto. Kedua matanya masih memperhatikan layar laptop tuaku.
“Hey, jangan buat aku merasa seperti Kazamasa.”
“Maksudmu?” Ia mengangkat wajahnya, menatapku, dan menaikkan satu alisnya. “Jangan-jangan cerita ini sebenarnya paralel?”

Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Sayangnya, kalaupun benar aku memaralelkan cerita itu dengan kehidupanku yang sebenarnya, aku tak akan memberi tahu siapapun tentang hal itu.

Kuperhatikan garis wajah Hiroto dalam diam ketika ia kembali menunduk dan memindai karanganku itu. Selama beberapa saat kami hanya diam, dibelakang telinga kami terdengar alunan musik jazz dan berbagai suara berisik orang-orang disekitar didalam kafe, namun baik aku maupun Hiroto tak ada yang berkata-kata. Apa peduliku dengan orang-orang sekitar, jika dihadapanku ada makhluk seperti Hiroto...

“Aku akan menemui Boss besok dan memberikan hasil uji coba ini padanya.” Ujar Hiroto akhirnya, sembari mencabut flashdisk-nya yang sedari tadi menancap di laptopku. “Akan kupastikan namamu akan terpajang di wall of fame Ekitai Hoshi Publishing—”
“Editor-san,” Potongku cepat, membuat Hiroto mengangkat wajahnya dan mata kami saling bertemu.
“...Apa?”
“Bagaimana kalau besok kau kutraktir?”
“...Ha?”

Aku terkekeh lagi. Lalu kuberikan senyum terbaikku pada Hiroto, senyum yang biasanya tak bisa ditolak oleh seseorang sekeraskepala apapun. Biasanya.

“Kau tahu, semacam berkencan.”




- OWARI -
???


A/N : Sebenarnya diem-diem emang benaran paralel sih. sejenis fic-ception gitu, jadi berapa lapis? ratusan XDDD tapi saya setuju sama Shou, iyey yey :3 ~ but once again this is just a work of fiction! Orz Orz

4 comments:

  1. pesona seorang hiroto emang susah di tolak >_<
    hanya saja endingnya nanggung,. buat sekuel dong~ tentang kencan hiroto dan shou >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah itu diaaa~ TTATT
      aku ini entah kenapa suka motong cerita seenak jidat, jd selalu putus di bagian yg tanggung XDDDa

      sikuel yak... nanti saya pikirkan XDDDa *plak*
      btw makasi uda bacaa (^0^)b

      Delete
    2. bagian yang aku suka
      “Kazamasa benar-benar sombong dan menyebalkan. Rasanya aku ingin membunuhnya sekarang.” aku juga pingin bunug kamu Hot!! wkwkwk
      ayo bikin sequelnya yeeeeh *maksa*

      Delete
    3. hyeeee ko aku mau dibunuuuh >///< #salahemot
      sikuel ya... ehehe... ehehehehe I'll think about it (^w^a)

      sankyu uda baca ya haruuu X33

      Delete