[Makeup Review] Product Haul Hasil Berburu Harbolnas

Selamat siang, apa kabar?

Saya baru sadar kalau bulan November kemarin cuma sempet ngepost satu tulisan saja dan itu mengenai snippet produk-produknya Nox dari Natasha. Review-nya pun belum saya sentuh sama sekali. Padahal di draft ada beberapa tulisan yang sudah saya susun, seperti review film-film terbaru semacam Fantastic Beasts: the Crimes of Grindelwald, Aqua-man, dan lain-lain. Tapi, ya sudahlah, bulannya juga sudah berakhir, review-nya masih bisa dipost pankapan. Omong-omong tentang bulan yang berakhir, tahun 2018 sudah mau berakhir juga, kawans. Adakah dari tahun 2018 ini yang kalian sesalkan atau banggakan? Cerita! ๐Ÿ˜†

Anyways, seperti yang kita tahu semua, tanggal 12 bulan 12 adalah hari dimana banyak sekali diskon menggoda di online retailer; hari yang lebih dikenal dengan 12.12, atau Harbolnas. Apakah kalian berhasil menahan hawa nafsu dengan tidak membeli satu produkpun di Lazada, Tokopedia, atau Shopee? Kalau Anda berhasil, maka selamat! Anda sangat tahan banting dengan godaan duniawi. Saya? Tidak. Saya sudah terjerumus dalam jurang itu dan kini berlumuran dosa dan penyesalan. Nggak, itu lebay.

Ceritanya di 12.12 itu banyak promo 'kan di Shopee, mulai dari koin setiap kali invite orang ke Shopee, dan kupon diskon dan cashback dalam bentuk koin gitu. Saya nggak sadar banget awalnya, tapi sepertinya hari itu pihak Shopee sekalian me-launching ShopeePay, 'kan? Nah, di situlah saya jatuh terjembab di kubangan dosa ketamakan (greed). Kenapa? Karena ShopeePay memberikan kita 40.900 ribu rupiah setelah pertama aktivasi ShopeePay. Ditambah iming-iming cashback koin Shopee sampai 15.000.

Dan, dengan modal 35.000 rupiah topup ke ShopeePay, saya akhirnya hunting dapat 2 blush-on dan 1 lip scrub dari Emina. Plus cashback koin sebanyak 11.000.

Nggak banyak memang, ya apa yang kau harapkan dari modal duit Rp 75.000 sahaja? Dapet gratis setengah harga saja sudah senang, kawan. ๐Ÿ˜‚

Sekarang masuk ke penilaian produk. Hmmm.

Product Haul Emina Cosmetics; Emina Cheeklit Pressed Blush & Emina Sugar Rush Lip Scrub

Saya beli pressed blush on dan lip scrub dari Emina Cosmetics. Detail produk yang dibeli adalah sebagai berikut:
  1. Emina Cheeklit Pressed Blush shade Marshmallow Lady
  2. Emina Cheeklit Pressed Blush shade Cotton Candy
  3. Emina Sugar Rush Lip Scrub
Sebenarnya belum pernah saya pakai langsung di pipi ๐Ÿ˜‚ Tapi nggak apa-apa lah ya membuat first impression? Boleh lah yaaaa.

Tadinya saya mau beli Focallure saja karena ada warna yang saya inginkan. Saya kepengin blush on yang cukup pigmented dan warnanya ngejreng merah gitu, dan ketika browsing di google saya merasa pressed blush Focallure adalah yang paling masuk akal, karena harganya yang ramah di kantong blogger misqueen kayak saya dan shade-nya yang lebih beragam. Tapi sebenernya sampai sekarang saya masih mempertanyakan kesahihan Focallure sendiri. Nah, itu yang membuat saya terjerumus dan berakhir membeli Emina ya saya terjerumus terus, sampai bingung kenapa bisa sebodoh ini dalam menjalani hidup. Yasudahlah sudah terjadi yekan. Lagipula selain memang bagus, Emina kan produk lokal, jadi harus kita dukung.

Pertama kali melihat packaging-nya saya berkata dalam hati, "Okay, yang Cotton Candy terlihat cukup merah dan sepertinya akan oye kalau saya pakai. Shade Marshmallow Lady juga orange-cokelat pucat dan saya suka." Lagipula swatch-swatch yang dilakukan blogger-blogger senior yang lebih dulu ngepost, warnanya terlihat indahhhh. Begitu kira-kira yang saya pikirkan.

Emina Cheeklit Pressed Blush shade Cotton Candy real pict

Emina Cheeklit Pressed Blush shade Marshmallow Lady real pict

Tapi setelah di-swatch dan tampak di sinar matahari, menurut saya Emina Cheeklit Cotton Candy terlihat terlalu "barbie" ๐Ÿ˜ญ Seperti metalic hot pink gitu. You know, hot pink a-la packaging Jeffree Star Cosmetics. Plus, ternyata Marshmallow Lady yang agak cokelat nude ini lebih glossy dari yang saya prediksikan. Overall, menurut pengamatan saya, ketika di-swatch Emina Cheeklit ini cenderung metalik.

Emina Cheeklit Pressed Blush shade Marshmallow Lady & Emina Cheeklit Pressed Blush shade Cotton Candy swatch
Penilaiannya belum lengkap sih, karena hanya swatch tangan. Mungkin sebaiknya saya upload foto ketika sedang mengenakannya, ya. Tapi kayaknya masih belum ada waktu untuk itu. Mohon bersabar.

Untuk Sugar Rush Lip Scrub-nya. Mantul!

Emina Sugar Rush Lip Scrub; scrub rasa gula, tapi nggak manis dan tolong jangan dimakan ya ๐Ÿ˜‚

Semalam sudah saya pakai. Jadi cara pakainya sangat sederhana, yaitu usapkan ke bibir dan diamkan beberapa menit. Sambil bersih-bersih kamar, ganti baju, ngiket rambut, nyapu, ngepel, terus udah gitu aja digosok dengan lembut sebelum dibilas dengan air atau diusap sama tisu. Karena saya pakainya sebelum tidur jadi sekalian cuci muka, saya bilas pakai air. Bibir saya ini kan cenderung kering dan mudah banget mengelupas, jadi setelah di-scrup dengan Emina Sugar Rush Lip Scrub ini jadi lembut, dan warnanya jadi agak beda, lebih cerah dari biasanya gitu ๐Ÿ‘

Emina Sugar Rush Lip Scrub

Karena yang dibeli cuma 3 item itu saja, jadi sudah cuman itu saja yang bisa saya ceritakan untuk post kali ini ๐Ÿ˜ช Mana ngga pakai research dulu seperti biasanya.

Ketemu lagi besok-besok, manteman!

Eh omong-omong fotoku di-repost sama instagram @indobassgram ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

[PRODUCT SNIPPET] Dapat dari Natasha!! NOX Coffee Facial Wash

Halo!

Sudah satu setengah bulan banget saya nggak buka blog ๐Ÿ˜”. Minggu ini akan menjadi minggu terberat di tahun 2018 bagi saya, jadi saking fokusnya saya tidak bisa membagi waktu untuk sekadar berbagi cerita di blog ini.

Sudah cukup dengan basa-basi tentang alasan tidak up to date. Mari kita isi post ini dengan basa-basi yang lebih oye. Tapi, hari-hari ini saya nggak mau cerita panjang-panjang dulu. Ya, karena alasan yang sudah diutarakan di atas.

Jadi gini. Kebetulan bulan September kemarin, saya mendapatkan satu tas benefit yang isinya beberapa produk keluaran terbaru klinik kecantikan Natasha. Saya pribadi tidak sedang dalam penggunaan produk-produk dari klinik Skin Care tersebut. Hanya, kebetulan mendapatkan beberapa benefitnya karena sempat diundang nge-band di acara yang disponsori sama Natasha. Fungsi dari post ini bukanlah untuk me-review produk, tetapi hanya untuk pamer saja. Hehe.

Termasuk di dalamnya adalah Bali Breeze Tropical Sunscreen SPF 50+ PA++++ dan NOX Coffee Facial Wash (oleh Dr. Fredi Setyawan), satu gelang dari biji kopi kering cantik dari NOX, dan satu handuk dari Bali Breeze. Saya bahkan tadinya nggak tau sama sekali kalau Bali Breeze itu produknya Natasha juga ๐Ÿ˜…

Anyways, karena belum motret yang Bali Breeze Tropical Sunscreen, berikut adalah teaser trailer penampakan dari NOX Coffee Facial Wash.

Tube NOX Coffee Facial Wash. Best trait-nya samapi saat ini adalah wangi kopinya yang semerbak bahkan sampai setelah penggunaan ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘
Sebagai tambahan informasi, berikut adalah klaim dari NOX Coffee Facial Wash yang saya lansir dari NOX Official Shop di Shopee:
  1. Mengandung antioksidan, anti-aging, moisturizer (Sodium PCA (NMF Factor)), brightening
  2. Melindungi kulit dari kerusakan sinar matahari
  3. Mengurangi kemerahan pada kulit
  4. Membuat kulit bersinar
  5. Moringa pterygosperma extract dapat digunakan sebagai anti polutan
  6. Menjadikan kulit tampak lebih bersih, cerah, segar, dan terawat kelembabannya
Plus, special trait dari NOX Coffee Facial Wash ini adalah wangi kopinya yang sangat khas.

Karena baru mencoba beberapa hari, saya belum menilai bagaimana dia bereaksi dalam jangka panjang penggunaannya. Oleh karena itu, izinkan saya mencoba menggunakan NOX Caffee Facial Wash ini sampai beberapa minggu (atau bulan) sebelum menulis review yang lebih panjang.; terutama penilaiannya apakah NOX Coffee Facial Wash itu bagus atau tidak, atau apakah NOX Coffee Facial Wash sesuai dengan klaim produknya atau tidak.

Untuk sekarang, doakan saya bisa survive minggu ini dengan baik.

Terima kasih semuanya. Kayaknya blog saya nggak enak banget dibaca karena gaya penulisan saya yang awkward banget ini ya ๐Ÿ˜‚. Coba besok-besok ganti tampilan atau gimana gitu kali ya ๐Ÿค”.

Sampai jumpa lagi besok!

[Makeup Review] Focallure Everchanging Eyeshadow Palette & Focallure Face Contour Stick #03 Coffee

I got something special put in my mailbox yesterday afternoon.

The story went like this; I wanted to save money, and even though saving money is equally hard as saving the world, I had managed to do so on the first half of September. Then I changed my App Store location from Japan to Indonesia and I downloaded applications that were now available. I downloaded Shopee, true, but I hadn't had plan on buying anything until I successfully saved good money for myself. Then I stumbled upon a crazy Flash Sale in that freakin' app and there it was: the Focallure Everchanging Eyeshadow Palette. And for a 12 colors palette it only costed like a little less than 60.000 IDR or 3.94 USD. Losing my mind, I immediately purchased the item, along with a contour stick from Focallure shade #03 Coffee.

Focallure Everchanging Eyeshadow Palette
So, I broke my own promise to save more money, and two weeks later after I had near-mental breakdown from purchasing Focallure Everchanging Eyeshadow Palette & Focallure Face Contour Stick #03 Coffee, they came knocking to my door after shipped from the mainland China. I mean, I'm not even that good at makeup and I purchase an 12 colored eyeshadow palette? Sounds like a joke to me! But here I am grumbling half happy because I goddamned have a new effin' eyeshadow palette.

Yet Another Band Performance Documentation of BST221B

Happy October 1st! It's 30 days to Halloween, how fast.

So, last weekend my band, BST221B, was invited to perform on a large-scaled Japanese Culture Festival in Yogyakarta, called Gambarimasu Hikari Matsuri 2018. Held by Gamabunta UGM, the festival was actually scheduled on this year's April, but due to technical reasons it was delayed until late September. We performed on Saturday evening, presenting only four covered songs, but were left happy.

I mean, it's been awhile since we performed on a large-scaled stage and with crowded audience so we were so pumped up, although there's only one popular song that we carried out. But so far we've only uploaded two cover songs on our Youtube channel, and those were of the less popular ones.

Here's the videos! Please support us by watching our documentaries, liking and also subscribing our channel, since your support means alot to us, I swear ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚





I play bass, so if you want to know how suck I am at playing that instrument, you may check it out using earphones or headphones. Judge me and then criticize in the comments section, I will be waiting ๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ข

I haven't planned to talk about anything yet but I'll see you on my next post!

[Skin Care Review] Product Empty #4 Natural Pacific Phyto Niacin Whitening Essence (Kemasan Lama)

Selamat hari Selasa.

Lama rasanya tidak membicarakan tentang skin care di sini. Mungkin sudah ada satu bulan sejak terakhir kali saya post tentang Product Empty, karena memang akhir-akhir ini saya tidak semaniak dulu dalam mencoba skin care juga, haha. Anyways, kali ini saya mau membicarakan tentang produk yang sebenarnya sudah terlalu banyak direview oleh Beauty Blogger di Internet. Tapi, berhubung seperti biasa review saya sangat subjektif, jadi saya ingin membicarakan tentang produk ini murni dari perspektif saya sebagai konsumen.

Untuk itulah sebagai disclaimer, review ini adalah honest review/review jujur dari lubuk hati saya yang paling dalam. Bisa jadi yang dialami oleh orang lain berbeda karena kita tidak ada yang dilahirkan memiliki kondisi yang sama persis satu sama lain. Dan, yap, seperti judulnya, honest review/review jujur kali ini akan membicarakan tentang Natural Pacific Phyto Niacin Whitening Essence yang kemasan lama.

Mengapa kemasan lama?

Karena saya tidak repurchase/membeli lagi produk serupa setelah habis satu botol.

Honest review Natural Pacific Phyto Niacin Whitening Essence kemasan lama. Isi Natural Pacific Phyto Niacin Whitening Essence yang cenderung cair dan mudah meresap ke kulit seperti yang dilihat dalam foto.

[REVIEW] Movie: Peppermint (2018)

Halo, selamat hari Senin. Semoga hari pertama kerja Anda menyenangkan.

Hari ini saya ingin menulis movie review yang sudah lama ingin saya lakukan. Movie review kali ini adalah film Hollywood yang dibintangi oleh aktris A-List yaitu Jennifer Garner. Judul film-nya adalah Peppermint (2018). Seperti yang sudah-sudah, film ini tidak terlalu mendapatkan respons yang positif di Rottentomatoes karena pemeran utamanya adalah perempuan, meski memiliki premis yang bagus. Entahlah, mungkin selera saya yang terlalu kacau, tapi saya pribadi memberikan nilai sebagai berikut :

⭐⭐⭐ 3.75/5

Peppermint (2018) poster courtesy: imbd.com
Warning: Spoiler alert!!!!

Bagi yang ingin menonton dan tidak suka diberi spoiler silakan skip saja. Saya sudah memperingatkan, jadi mohon kita bisa saling respek kedepannya. Yuk, mari kita menjelajahi ruang dan waktu dengan film Peppermint ini.


(Movie review is in Indonesian)

Some Kind of Random Band Performance

Soooo, my band's latest performance is up in our Youtube channel. Only one song has been uploaded so far though, but it's already embarrassing for me. Especially me, because I made so many -effin- mistakes that it's very apparent and such a shame, even though I really liked the songs performed ๐Ÿ˜ญ

Anyways please do visit our channel! Here's us covering The Gazette's Cassis. Yes, my band is pretty much specialized in doing Japanese songs cover. /shrug


Uey, I'm listening to Produce 48's Rolling Rolling right now lol, I don't know how it is related to this post but.... you know.

They seem quite happy but I'm sure they're just laughing at things only they understood.

[Makeup Review] NYX Full Coverage Concealer CJ05

Selamat hari Kamis, sudah ngopi kah hari ini?

Sedikit trivial guys, sebisa mungkin tolong hindari kopi sachet, karena itu beneran nggak bagus untuk lambung. Apalagi kalau dikonsumsi 2 sampai 3 kali sehari, bahaya banget karena bisa menaikkan asam lambung dan bikin tremor tidak berkesudahan. Oh iya, pun suka kopi dan suka gaya hidup tertentu, sebaiknya hindari kopi-kopi dari franchise-franchise impor terkenal karena mereka (allegedly) biasanya mencampur biji kopi yang bagus maupun yang jelek, tanpa ada sortiran ๐Ÿ˜‚. Jadi kalau mau ngopi sebaiknya belilah biji kopi dan olah (roast) sendiri, atau kalau tidak ya sebaiknya pergi ke kafe yang menyediakan single origin yang kita bisa tahu kopinya dari mana. Kopi2 di Indonesia ini beraneka ragam dan enak-enak, jadi sembari kita bisa menikmati kopi itu kita juga membantu mensejahterakan petani kopi lokal.

Kata orang yang bahkan masih suka beli produk impor seperti saya dan masih minum kopi sachet kalau kepepet. Halah.


Omong-omong tentang ke-halah-an, saya sebenarnya membuat post ini karena saya sudah lelah dan agak kecewa dengan brand yang akan saya bicarakan. Ya, saya pernah membicarakannya sedikit di post tentang Drug Store Makeup Haul beberapa bulan yang lalu. Dari beberapa brand makeup yang saya beli waktu itu, sejujurnya produk inilah yang paling bikin saya kesal.

Dia adalah NYX Full Coverage Concealer CJ05, sebuah concealer di dalam jar yang meng-klaim diri full coverage. Bukan cuma karena dia tidak benar-benar full coverage, saya juga cukup kecewa dengan formulasinya dan klaim tentang NYX Full Coverage Concealer ini yang creasing free.

NYX Full Coverage Conceale, Concealer dalam jar

Layout Change, Finally!

Hello, how are you doing?

It's been awhile now. Well, no, it's only like 12 days since the last time I posted something in this blog, so it's not that long ago. But I feel like I've been through so many things these days ๐Ÿ˜‚. My band is having tight schedule especially this month, and I have another upcoming language proficiency test like two months from now on, and I need to remember at least six books of materials to pass my test, and my teacher... I shouldn't judge though, but I haven't been feeling comfortable with her teaching me ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

So yeah. Going back and forth with only one aim in mind but each steps are very steep and dangerous and I am quite stressed that I suddenly forgot how to speak in public ๐Ÿ˜‚.

Anyways, I've been dying to review some of my favorite skin cares that I use but because in one day we only have 24 hours I still can't find the right time to sit tight and write. That also happens with my brain when it comes to writing fictions. I tend to not be able to write any stories and/or fiction when I'm close to someone, which is suck. But I'll be coming back here with some updates for sure. Look, I've even updated my layout! I feel like my old layout is not that appealing so I changed it into this ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ But is this appealing enough for you or should I change it to another layout again?

What do you think about my current layout?

Oh, I actually have a get-ready-with-me make up video but I kind of doubt to share it publicly. I mean, I'm ugly, and I'm not that good with make up either, and I'm not good with video editing so yeah. Here's an accidental pic of me once I finished filming my failed attempt grwm video. It's accidental, so it probably looks good for you. IT IS NOT, in reality.


I tempted to use glitter eyeshadow from Inez in this grwm, and I tried so hard to create a namidabukuro (what's the English for this? Eyebags? No? Tearbags? What?) effect but it turns out too dark I guess? I have very large eyes, what should I do with them ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

That's it. That is about everything that I can say in this post. If you're looking for my social media, links are attached on the top-right corner of this page. Hit me up guys! Please? Hahaha.

Thank youuuu and see you soon!

[Makeup Review] Innisfree No-Sebum Blur Primer

Slamat hari Jumat, teman-teman!
Tidak terasa besok sudah hari Sabtu, yang artinya kita-kita kaum karyawan yang bekerja Senin-Jumat bisa mulai leyeh-leyeh nanti sore. Apakah sudah ada rencana mau ke mana akhir pekan ini? Kalau saya sebenarnya cuma ingin beristirahat, tapi pada kenyataannya harus mengintensifkan latihan juga karena hari Selasa minggu depan akan perform di Toys Fair di Lippo Plaza Yogyakarta ๐Ÿ˜…

Omong-omong, hari ini saya ingin membuat sedikit saja review Innisfree No-Sebum Blur Primer. Bisa dibilang ini adalah primer pertama saya, dan saya meluangkan banyak sekali waktu untuk melakukan research sebelum memutuskan untuk membeli produk yang satu ini. Sabenarnya sudah beberapa bulan sejak pertama kali saya memakainya, tapi keinginan untuk review kala itu masih agak tipis karena jarang memakai makeup juga. Selain itu, banyak pula yang sudah mereview Innisfree No-Sebum Blur Primer di internet. Adapun yang saya tulis di review kali ini adalah murni dari apa yang saya alami sendiri, ya. Tanpa babibu, mari kita menuju ke review Innisfree No-Sebum Blur Primer ini.

Kotak/box dan isi dari Innisfree No-Sebum Blur Primer, agak kotor karena sudah cukup lama berada di tas ๐Ÿ˜ฅ

[REVIEW] Movie: Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212


Mumpung masih fresh dan belum lupa-lupa banget, saya ingin menulis review untuk film terbaru Indonesia berjudul, Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, yang dirilis di bioskop-bioskop tanah air sejak 31 Agustus 2018 yang lalu.

Pertama saya ingin sekali mengucapkan selamat, karena filmnya tergolong sukses. Merinding juga waktu pertama kali diputer dan ada opening dari 20th Century Fox, udah serasa mau nonton film Hollywood gitu. Apalagi, siapa yang tidak kenal Wiro Sableng? Dia adalah pahlawan semua orang sejak pertama kali muncul di media cetak dan televisi. Kalau saya, pengalaman pertama saya menonton series Wiro Sableng adalah dulu ketika masih kecil. Diciptakan oleh (alm.) Bastian Tito, ayah dari Vino G. Bastian pemeran Wiro Sableng live action, Wiro Sableng punya banyak sekali kenangan di kepala saya. Nonton film-nya pun jadi yang terkagum-kagum wah keren wah keren gitu, karena selain merasakan flash back ke masa lalu, juga terkesan dengan garapan film itu sendiri. Jadi, saya review, ya.

SKOR : ⭐⭐⭐ 3.5/5

Poster Courtesy bioskoptoday.com
WARNING!!! Dari sini konten post akan banyak mengandung spoiler. Jadi semisal kamu belum nonton dan ingin menonton, diusahakan untuk skip review ini saja. Kecuali kalau kamu ada tendensi masokis, sila dibaca, tidak apa-apa.

Oh iya, disclaimer dulu, sebelumnya saya mau bilang kalau saya tidak mengerti tentang detail dari pembuatan sebuah film, jadi semisal ada yang salah dalam pengkategorian atau penamaan tertentu, saya terbuka dengan masukan dan koreksi dari Anda semua. Sebagai tambahan, ini adalah review jujur saya dari apa yang saya rasakan sendiri ketika menonton Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, dan karena perbedaan pendapat itu sah dan diatur oleh Undang-Undang, jadi saya terbuka juga jika ada yang tidak setuju.

[Makeup Review] The Body Shop: Matte Clay Skin Clarifying Foundation (Savannah Pecan 042) & Matte Lip Liquid (Mauritius Dahlia 017)

Halo, selamat pagi, siang, sore, dan malam!

Tidak terasa kita sudah memasuki bulan September, yang artinya sekitar kurang dari 4 bulan lagi, kita akan ganti tahun. Apakah resolusi di tahun 2018 kalian sudah ada yang tercapai? Saya yang minor sudah, tapi resolusi mayornya masih terus berusaha untuk diwujudkan sampai sekarang ๐Ÿ˜‚. Semoga cepat tercapai, walaupun ada beberapa doa dari orang lain yang menghalanginya.

Untuk post review pertama di bulan September ini, saya ingin membicarakan dua produk sekaligus, dari satu brand yang sama: The Body Shop. Disclaimer dulu, ini adalah honest review saya, jadi mungkin kalian akan mendapatkan reaksi yang berbeda dan mungkin ada yang setuju dan tidak setuju, itu adalah hak masing-masing, karena kebebasan berpendapat diatur dalam Undang-Undang. Adapun dua produk yang saya beli di akhir bulan Agustus lalu adalah:
  1. The Body Shop: Matte Clay Skin Clarifying Foundation (Savannah Pecan 042)
  2. The Body Shop: Matte Lip Liquid (Mauritius Dahlia 017)
Bentuk fisik dari The Body Shop: Matte Clay Skin Clarifying Foundation (Savannah Pecan 042) & Matte Lip Liquid (Mauritius Dahlia 017)

[FICTION] Original Oneshot: Crazy in Love

Title : Crazy in Love (English)
Author : Pudy Kusumaningrum
Genre : Romance, pop literature
Rating : PG
Disclaimer : CROSS-POSTED ON WATTPAD.
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.
Author's Note : This is another fiction of mine that is straightly snatched from my very very old fanfiction. If you've followed my track records in writing, you might notice this story though ๐Ÿ˜‚ My brain's still stuck so I'm very sorry.
PHOTOS CREDIT:
- Art by Lรธnfeldt on Unsplash
- Felix Mittermeier from Pexels
- Photo by Na Inho on Unsplash
WARNING : I am not an expert in mental disease, and not actually suffering from the illness mentioned in this fiction. All that is experienced in by the fictional characters in this story is based solely on my imagination mixed with some simulations found online with no accuracy. As scary as it is, however, I still find it fascinating.



I shake my head. It's not like I couldn't recall. I just want to make sure that it's real-that I'm having a bad day. I move my fingers and play with the colored highlights on her hair. The pinkish strikes start from the crown on her head to her hair tip. It makes her look like she's bleeding all over the head, and those highlights are like trails of her crimson blood. But I know for sure that it's just some hair dyes. Some pink highlights. Isn't it?

[Skin Care Review] Product Empty #3 COSRX Acne Pimple Master Patch

Love is blind, now I'm blind.

Sepenggal lirik dari lagu berjudul Rumor, salah satu lagu Concept Evaluation yang dinyanyikan di Produce 48 episode 10 tepat hari Jumat minggu lalu. Tapi hari ini saya cuma bingung mau membuka blog dengan narasi seperti apa, dan kebetulan saya lagi dengerin versi audio dari lagu Rumor tersebut. Tentu saja yang akan saya bahas adalah product empty dari skin-care yang biasa saya pakai seperti beberapa post sebelumnya, bukan tentang Produce 48. Jadi, ya, halo, selamat datang untuk yang baru berkunjung ke Daily Pudy! ⭐⭐

Seperti judulnya, kali ini yang akan saya bahas adalah COSRX Acne Pimple Master Patch. Pernah saya katakan tepat di post persis sebelum post ini bahwa COSRX adalah salah satu skin care Korea yang teramat sangat dikenal oleh beauty community di Indonesia saat ini. Selain itu, COSRX Acne Pimple Master Patch juga pernah dibahas oleh Mbak Suhay Salim di review-nya beberapa bulan yang lalu, jadi saya yakin banyak yang sudah tahu tentang produk ini juga. Tapi saya tetep kepengen nulis sendiri jadi please bear with me ๐Ÿ˜…

Penampakan COSRX Acne Pimple Master Patch
Saya pikir COSRX Acne Pimple Master Patch ini sendiri sudah menjadi holy grail bagi yang punya tipe kulit acne prone atau yang kena breakout. Bagaimana tidak, COSRX Acne Pimple Master Patch ini sangat ajaib karena bisa menghisap habis whitehead dan pustula yang super eewwww๐Ÿ’ข dari kulit wajah dalam waktu yang sangat cepat; bisa kurang dari 24 jam dan voila, jerawat kempes seketika!

Kok bisa seperti itu ya?

COSRX Acne Pimple Master Patch memiliki zipper untuk melindungi isinya

Itu yang terus saya pikirkan sejak pertama kali pakai COSRX Acne Pimple Master Patch atau kita sebut saja, plester jerawat ajaib dari COSRX. Dari apa yang saya amati dan alami sendiri dalam beberapa bulan terakhir, plester ini menghisap cairan nanah yang ada di dalam jerawat whitehead maupun pustula dan menyimpannya di dalam tubuh plester super tipis itu sendiri, dengan begitu jerawat yang bernanah itu akan sembuh hampir tanpa bekas. Apa saja bahan-bahan yang ada di dalam COSRX Acne Pimple Master Patch yang membuat dia begitu ajaib?

Setiap satu wadahnya terdapat 24 pieces plester dengan 3 macam ukuran
Isi COSRX Acne Pimple Master Patch

Berikut ingredients/bahan-bahan aktif yang membuat plester jerawat COSRX Acne Pimple Master Patch ini seajaib yang kita tahu:
  1. Cellulose gum
  2. Styrene isoprene styrene block copolymer
  3. Polyisobutylene
  4. Petroleum resin
  5. Polyurethane film
  6. liquid paraffin
  7. Tetrakis methane
Kegunaan Cellulose gum adalah bahan untuk membuat struktur pada plester ajaib itu sendiri, dan tetap memberikan kelembaban pada kulit ketika ditempelkan. Selain itu, baik styrene isoprene styrene block copolymer, polyisobutylene, petroleum resin, adalah struktur-struktur berbentuk seperti karet yang digunakan untuk menebalkan dan membuat setiap plesternya bisa melekat erat ke kulit. Polyurethane film sendiri adalah lapisan paling luar dari si plester ini agar supaya dia tetap kedap dari udara dari luar. Bahan aktif yang ada di dalam COSRX Acne Pimple Master Patch selain Cellulose gum adalah Liquid paraffin, atau yang dikenal sebagai mineral oil. Liquid paraffin bertugas untuk menjaga kelembaban dan membuat lapisan pelindung sehingga area yang dilindungi oleh plester tidak ada kotoran, bakteri, kuman, dan minyak berlebih yang dapat masuk dan menembus si jerawat ini.

Sayangnya, saat ini bahan yang masih menjadi misteri adalah Tetrakis methane. Kalau nanti ada informasi tentang bahan ini, akan saya bagikan ke kalian. Atau, kalau kalian ada yang tau, bisa share di comment supaya kita bisa berbagi pengetahuan! ๐Ÿ˜‡


Anyways, memang benar kalau COSRX Acne Pimple Master Patch bisa menyerap nanah yang ada di dalam whitehead dan pustula (pustula: jerawat besar yang ada bintik putih ditengahnya), tapi dia tidak mengandung bahan aktif untuk meredakan jerawat yang lain, seperti sulfur atau salicylic acid. Jadi ketika kamu mengalami jerawat batu yang tidak ada bintik putihnya, niscaya COSRX Acne Pimple Master Patch ini tidak akan bekerja ๐Ÿ˜‚. Untuk itu, sedikit tips dari saya:
  • Semisal ada jerawat batu yang belum matang, sebaiknya diberi perawatan lainnya dulu sampai dia ada mata putihnya, baru ditempelkan plester COSRX Acne Pimple Master Patch ini setelahnya. 
  • Tips kedua adalah, ketika kamu mengangkat plester dari wajah dan menemukan kulitmu bolong (berpori besar) karena whitehead-nya nempel ke plester atau popping out dengan sendirinya, ada baiknya untuk memakaikan plester yang baru di atas bekas popping out itu agar supaya dia tetap steril dari kotoran. Setelah beberapa jam, pori akan mengecil dan sisa-sisa nanah akan dihisap juga, dan kulitmu akan kembali muyusss ๐Ÿ’“
Mungkin cukup itu saja dari saya. Konlusi yang bisa diambil dari pengalaman saya menggunakan COSRX Acne Pimple Master Patch hanya ada masing-masing dua poin pro dan kontra:

PRO :
  1. Cepat mengempeskan jerawat dengan menghisap nanah yang ada di dalamnya
  2. Melindungi bagian yang berjerawat dari udara bebas, kotoran, bakteri, dan minyak
KONTRA : 
  1. Tidak bisa digunakan sebagai obat jerawat aktif karena tidak mengandung sulfur/salicylic acid
  2. Nanah bisa kelihatan banget di plesternya dan akan mengganggu ketika dipakai di siang hari, jadi untuk menghindarinya bisa pakai alternatif lain yaitu COSRX Clear Fit Master Patch

Oh iya, sebenernya saya menulisnya sebagai Product Empty tapi foto-foto yang saya pakai nggak ada yang patch-nya empty ๐Ÿ˜‚. Ya kan kalau saya foto yang beneran udah habis jadi nggak estetik, to? Hahahahaha. Anyways, sekian dari saya, di bawah ini adalah foto-foto saya menimpa plester jerawat ajaib COSRX Acne Pimple Master Patch dengan makeup.

Nggak kelihatan, kan?
kalau begini keliahatan? Belum?
Tep susah kelihatan ya harusnya nggak pakai makeup saja tulul ๐Ÿ˜‚
Salam!
Ini pas banget saya selesai nulis, lagunya balik lagi ke RUMOR HAHAHA. Suhyun sama Eunbi suaranya uuuuuuu ⭐⭐⭐


Semoga Miyawaki Sakura center di final!!!





Referensi :
https://www.refinery29.com/2017/10/175355/cosrx-pimple-patch-review-ulta-korean-beauty
https://cosmeticcomposition.com/2017/06/23/cosrx-acne-pimple-master-patch-ingredient-review/
http://www.cosdna.com/eng/forum/topic.php?no=1848

[Skin Care Review] Product Empty #2 COSRX One Step Original Clear Pad

Halo, hari ini saya mau melanjutkan series Product Empties dari skincare-skincare yang pernah saya beli dan sudah habis atau menjelang habis, yak. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rezeki-Nya kita bisa belanja skincare setiap saat setiap waktu dan atas karunia-Nya pula kita bisa ketemu lagi di postingan nggak penting dari blog yang terlalu nganu ini.

Olrait, saya akan mulai. Hari ini kita bicara sedikit saja tentang COSRX One Step Original Clear Pad. Dan ini sudah pertengahan tahun 2018, pasti penggemar skincare sudah pada tahu dan bahkan hafal di luar kepala tentang keberadaan COSRX 'kan?

Tutup jar COSRX One Step Original Clear Pad dari atas

Dahulu sebelum memutuskan untuk beli produknya COSRX, saya takut banget soalnya banyak review yang bilang dia ampuh banget mengatasi masalah kulit. Nah, di dalam otak saya ini kalau satu produk ampuh banget malah dia agak serem, karena kemungkinan ingredients/bahan-bahan-nya nggak ramah sama kulit apalagi kalau dipakai setiap hari. Tapi waktu saya beli COSRX Acne Pimple Master Patch yang buat jerawat itu, saya sejujurnya amazed banget dengan teknologinya. Karena itu saya malah kepengen coba skincare lainnya yang diproduksi oleh COSRX ini. Jadilah saya beli COSRX One Step Original Clear Pad dan COSRX Aloe Soothing Sun Cream yang saat ini sudah mau habis juga, ternyata nggak seseram yang saya pikirkan ๐Ÿ˜‚.

Jar COSRX One Step Original Clear Pad
Sebenernya saya agak kurang paham dengan sejarah panjangnya, tapi singkatnya, mungkin sebelum berubah menjadi COSRX One Step Original Clear Pad, nama dari produk ini adalah COSRX One Step Pimple Clear Pad; yang terbaru tersebut semacam upgrade cover-nya aja gitu mungkin, karena ketika saya browsing ingredients/bahan-bahan dari kedua produk tersebut, mereka memiliki bahan-bahan yang sama persis.

COSRX One Step Original Clear Pad sendiri adalah gentle exfoliator yang berbentuk pads (semacam bantalan kapas) yang keseluruhannya basah oleh toner. Di dalam satu jar COSRX One Step Original Clear Pad ada 70 pads yang bisa digunakan setiap hari. COSRX One Step Original Clear Pad ini juga disarankan untuk digunakan 3 (tiga) kali sehari untuk hasil yang maksimal.

Cara pakai COSRX One Step Original Clear Pad:
  1. Usap wajah dengan sisi pad yang kasar
  2. Usap lagi wajah dengan sisi pad yang lebih halus
  3. Tutup jar setelah penggunaan supaya kandungan toner-nya tidak menguap bersama angin api tanah udara

Sisi kasar pada pad untuk step 1
Sisi halus pada pad untuk step 2

Tapi sejujurnya, walaupun belum ada catatan/record/review tentang apakah penggunaannya adiktif atau tidak, saya agak takut ketagihan, jadi saya cuma pakai satu kali sehari, atau dua kali sehari kalau lagi breakout yang mostly disebabkan oleh hormon pra-menstruasi.

COSRX One Step Original Clear Pad memang menjanjikan ingredients/bahan/isi yang aman dan efektif, terutama untuk mengurangi dan menenangkan jerawat. Mari kita lihat daftar ingredient dari COSRX One Step Original Clear Pad ini:
  1. Salix alba (Wilow) Bark Water
  2. Butylene Glycol
  3. Glycerin
  4. Betaine Salicylate
  5. 1,20Hexanediol
  6. Arginine
  7. PEG-60 Hydrogenated Castor Oil
  8. Panthenol
  9. Allantoin
  10. Ethyl Hexanediol
  11. Citrus aurantium Dulcis (Orange) Peel Oil
  12. Melaleuca alternifolia (Tea Tree) Leaf Oil
  13. Sodium Hydroxide
  14. Sodium Hyaluronate
Dilansir dari website resmi COSRX, bahan utama dari pembuatan One Step Original Clear Pad ini adalah Salix alba (Wilow) Bark Water yang mencapai 85.92%. Salix alba Bark Water inilah yang menggantikan fungsi air di toner pada umumnya, karena lebih banyak fungsinya. Empat fungsi utama Salix alba Bark Water di COSRX One Step Original Clear Pad ini, seperti yang bisa dikutip dari CosDNA, adalah sebagai astringent, skin-conditioning, penenang, dan tonic.

Apa itu astringent?

Kalau kamu pernah lihat produk toner dari Viva yang cucumber, dia sebenarnya adalah astringent, yang mana lebih kuat daripada toner pada umumnya, terutama karena dia mengandung lebih banyak alkohol alami. Kegunaan astringent pada bahan toner adalah untuk mengontrol produksi minyak berlebih pada wajah, terutama bagi kita yang punya wajah kayak tisu bekas dipakai pegang gorengan. Selain itu, kelebihan lain astringent adalah sebagai anti-bakteri yang melawan bakteri jerawat, mengencangkan kulit, mengecilkan pori-pori, mengontrol blackhead, dan juga melindungi kulit dengan membuat lapisan pelindung. Mungkin karena itu pula, ketika untuk pertama kalinya dalam hidup kamu buka jar COSRX One Step Original Clear Pad, kamu akan merasa bahwa bau dari pad-pad basahnya itu menyengat sekali.

Tapi tenang saja, karena kalau kita cek di CosDNA, bahan-bahan chemical exfoliator yang mengandung pelarut di COSRX One Step Original Clear Pad ini sangat aman.

Yang tidak saya rekomendasikan hanya satu: kalau kamu sedang dalam penggunaan COSRX One Step Original Clear Pad ini, tolong sekali, jangan campur penggunaannya dengan, misalnya, COSRX Natural BHA Skin Returning A-Sol, karena toner A-Sol ini ingredients-nya sangat keras dan tidak cocok kalau digunakan bersamaan dengan produk yang mengandung AHA, BHA, retinol, dan Vitamin C. Kalau mau, pakai salah satu saja.

Saya pribadi sudah dua bulan menggunakan COSRX One Step Original Clear Pad, dan saya memang merasa mengalami perubahan yang signifikan. Pertama, kulit jadi lebih halus dan tidak lagi mengalami breakout. Yang saya sadari sampai jingkrak-jingkrak sendiri adalah COSRX One Step Original Clear Pad ini benar-benar telah membersihkan hidung saya dari komedo atau blackheads. Sayangnya, dia tidak bisa menenangkan jerawat besar dengan cepat, dan tentu saja tidak bisa mengatasi dark spot dan hiperpigmentasi akibat iritasi jerawat walaupun dia mengandung anti-inflamatory.

Kalau disimpulkan mungkin pro-kontra penggunaan COSRX One Step Original Clear Pad versi saya adalah seperti ini:

PRO
  • Air dalam kandungan toner biasa diganti dengan Salix alba Bark Water yang mengandung astringent yang bagus untuk mengontrol minyak berlebih
  • Ampuh meredakan jerawat kecil
  • Meredam breakout
  • Ampuh menghilangkan blackhead
  • Menghaluskan kulit
KONTRA
  • Wanginya sangat kuat
  • Tidak terlalu bisa diandalkan untuk menenangkan jerawat yang besar-besar
  • Tidak terlalu membantu mengurangi hiperpigmentasi
  • Tidak terlalu ramah di kantong
Walaupun pada akhirnya pro-nya lebih banyak daripada kontra, saya yang awalnya mau beli jar ke-2 akhirnya mengurungkan niat dan lebih memilih menggunakan Some By Mi AHA BHA PHA 30 Days Miracle Toner. Bukan apa-apa, mungkin saya hanya penasaran karena temen saya di twitter (namanya Dien) pernah bilang toner ini bagus gitu ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ dasar mental konsumen gampang kemakan iklan

Jar kosong COSRX One Step Original Clear Pad (tinggal sehelai)
Anyways kayaknya saya sudah terlalu banyak bacot di postingan ini. Akhir kata bila ada yang tidak berkenan mohon maaf, kalau ada yang salah-salah dalam menjabarkan mohon bisa dikoreksi. Besok-besok kepengennya ngepost fiksi lagi gitu tapi masih belum ada ide ๐Ÿ˜ค

Salam!





Referensi :
CosDNA http://www.cosdna.com/eng/cosmetic_5bc0350962.html
COSRX.KR
http://cosrx.kr/product_025.html
http://cosrx.kr/product_024.html
Kawaii Beauty Japan https://kawaiibeautyjapan.com/article/757/manfaat-astringent

[Makeup Review] Mamonde Creamy Tint Color Balm Intense - No. 23, Brick Rose

Selamat hari Selasa untuk semua orang di muka Bumi.

Nama saya Pudy, dan saya mau cerita awal bulan ini setelah gajian saya beli lipstick baru.

Mamonde Creamy Tint Color Balm Intense No. 23 Brick Rose
Eh, kali ini sebenernya secara resmi namanya lip balm, tapi creamy dan pigmented, dan tentu saja karena dia matte jadi mau diberi nama lip balm pun tetep aja agak bikin kering hehe. Seperti biasa, saya suka sekali belanja secara random, dan kerandoman saya bulan ini jatuh pada brand bernama Mamonde. Sejujurnya saya tertarik dengan Cushion yang juga ditawarkan oleh Mamonde ini, tapi kejadian tidak menyenangkan pernah saya alami bersama dengan cushion dari The Face Shop yang terlalu "berkilau" seperti yang saya utarakan di beberapa post yang lalu, dan sejujurnya, sejujur-jujurnya, saya trauma gitu ๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข

Bentuk fisik Mamonde Creamy Tint Color Balm Intense No. 23 Brick Rose

Anyhows, Mamonde Creamy Tint Color Balm Intense pun saya beli dengan banyak pertimbangan; karena sepertinya brand ini sungguh oke makeup series-nya, dan karena saya lagi kepengen punya lipstick yang saya benar-benar bisa stick selama beberapa waktu lamanya. Lalu saya melihat-lihat shade yang saya inginkan, browsing-browsing swatch-nya di google, dan kemudian saya sangat tertarik dengan seri No. 23 yang Brick Rose, dan saya belilah itu color balm. Dan kemudian dia dikirimkan ke saya dan saya mencobanya dan.

Saya suka.

Suka sekali.

Mamonde Creamy Tint Color Balm Intense No. 23 Brick Rose swatch
Saya nggak pernah sesuka ini sama lipstick sejujurnya, karena walaupun benda itu krusial untuk menutupi warna asli bibir saya yang jelek, tapi cukup banyak yang pada akhirnya mengecewakan seperti halnya laki-laki. Waktu nge-swatch sendiri berasa wow, karena warnanya pink tapi agak ungu tapi agak oren tapi agak cokelat gimana gitu, tapi kalau dibilang kayak batu-bata pun tidak terlalu. Keunikan warna nude-nya ini cocok banget buat dipadukan sama warna kulit semisal kita punya kulit yang agak gelap dan bibir alami yang cenderung gelap pula.

Satu-satunya hal yang disayangkan dari Mamonde Creamy Tint Color Balm Intense ini hanyalah, dia nggak tahan lama sama sekali. Ya, cukup awet, tapi nggak sampai yang bisa tahan lebih dari 3 jam. Butuh re-apply secara konstan untuk menjaga warnanya tetap bagus di bibir. Terlebih lagi kalau dipakai makan. Sebenernya Mamonde Creamy Tint Color Balm Intense ini nggak banyak transfernya, baik ke gelas, sendok, sedotan, tapi dia cepet sekali luntur kalau kena kuah dan minyak. Jadi bisa dibilang secara kualitas dan formula, Mamonde Creamy Tint Color Balm Intense ini cukup standar atau biasa-biasa saja.

Beberapa hari yang lalu pun saya tiba-tiba sadar. Kayaknya saya sudah punya beberapa lipstick nude dan matte dengan warna yang hampir serupa dengan Mamonde Creamy Tint Color Balm Intense No. 23 Brick Rose ini. Saya pun mencoba swatch beberapa lipstick/lip tint yang saya punya secara bersamaan, dan memang benar-benar hampir mirip ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜‚


Yang saya swatch di atas adalah :
  • Elsheskin Matte Lipstick (Autumn)
  • ZOYA Cosmetics Ultramatte Lipstick (Amber Glow)
  • 3CE Velvet Lip Tint #Going Right
  • Mamonde Creamy Tint Color Balm Intense No. 23 Brick Rose
Memang, keempat lipstick/tint/balm tersebut memiliki shade yang hampir serupa, tapi Mamonde Creamy Tint Color Balm Intense No. 23 Brick Rose ini paling gelap diantara mereka semua. Di mata saya bahkan warna Brick Rose ini terlihat seperti campuran Elsheshin Autumn, Zoya Amber Glow, dan 3CE Velvet #Going Right dicampur menjadi satu ๐Ÿ˜๐Ÿ˜ Makanya saya kok suka gitu kali ya hahahahahahaha.

Mamonde Creamy Tint Color Balm Intense Swatch di bibir sendiri. Maaf ini saya belum benerin tempered glass saya yang retak-retak di berbagai tempat termasuk yang ngalangin kamera depan, jadi jelek begini gambarnya ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Kalau suka warna-warna nude, saya sih merekomendasikan lip balm Mamonde ini. Ada beberapa warna/shade lain yang juga nggak kalah bagusnya, dan patut dicoba pula. Sebelum kita tutup post hari ini, ada baiknya kita merangkum pro-kontra Mamonde Creamy Tint Color Balm Intense ini terlebih dahulu:

Pro :
  • Warnanya bagus banget
  • Creamy
  • Pigmented, menutup keseluruhan warna bibir asli
Kontra :
  • Nggak tahan lama
  • Cepat luntur kalau kena air/minyak
  • Harus sering-sering re-apply 
Yosh, begitulah kesan-kesan saya terhadap Mamonde Creamy Tint Color Balm Intense yang baru masuk ke kantong makeup saya bulan Agustus ini. Oh iya, gara-gara Produce 48 sebenernya saya jadi kepengen mencoba makeup glittery macem k-pop2an gitu hahahahaha. Terus semalam saya ngantri setengah jam di kasir cuma buat beli glitter di Mirota Kampus. Ya, seharusnya saya cari saja di Mutiara atau di mana gitu untuk menemukan glitter eye shadow yak, tapi saya malas. Saya beli Inez lagi, dan menurut saya sih bagus banget glitternya waktu di-swatch di tangan. Mungkin besok-besok akan saya coba apply di mata beneran hehe.

Sampai jumpa di postingan selanjutnya!
Dadahhh...

11 Hari dari Post Terakhir

Halo, apa kabar?

Kalau dilihat dari tanggalnya, terakhir saya ngepost di sini adalah tanggal 2 Agustus 2018, yang mana adalah 11 hari yang lalu kalau dihitung dari hari postingan ini dirilis (13/8). Banyak hal yang terjadi selama 11 hari itu pula, dimulai dari berbagai banyak kegiatan komunitas yang harus saya ikuti karena saya adalah kakak angkatan yang baik hati dan tidak sombong di jurusan Sasing serta kesibukan saya nonton beberapa episode Produce 48 terakhir sampai hapal sama lagu-lagunya. Belum lagi hal yang tidak direncanakan sama sekali seperti demam tinggi yang tidak oye. Ya, benar, writing challenge saya yang ke-4 adalah tentang Rant about Anything, tetapi sejujurnya saya sedang tidak ingin melakukannya. Maksud saya, untuk nge-rant saja saya merasa saya harus melakukan banyak research dan mengeluarkan argumen tentang hasil research itu, jadi agak memakan waktu juga hehe berasa bikin artikel buat jurnal akademik wae.

Sebenernya saya bulan lalu mendaftar untuk mengikuti tes IELTS di IDP Yogyakarta. Nganu, ya tentu saja ulterior motive saya mengambil tes ini adalah untuk bisa dipakai mempromosikan diri ke berbagai institusi, siapa sih yang nggak, ya kan? Tapi tentu saja selain itu adalah karena saya merasa ilmu saya mulai agak tumpul. Walaupun saya sudah nggak perlu lagi menghafal tenses yang njelimet tapi nggak njelimet-njelimet-amat, tapi di tes IELTS tidak ada yang namanya seksi Structure. Saya hanya mengandalkan general knowledge saya di Bahasa Inggris, berharap saya bisa sebulan penuh efektif belajar agar supaya mendapatkan skor IELTS yang maksimal. Tapi apa daya, di antara hari pertama saya memutuskan untuk mendaftar IELTS sampai hari H pelaksanaan IELTS itu (11 Agustus 2018) effort saya untuk belajar mungkin hanya mencapai 30%, yang mana akan saya sesali seumur hidup. Beberapa hari setelah saya bayar IELTS dan mengkonfirmasi ke kantornya, saya dimintai tolong oleh kakak angkatan bersama dengan adik angkatan di jurusan untuk ikut kegiatannya Prasasti, yang mana sangat intensif.

Tapi tidak berarti saya tidak suka. Saya sangat sayang dengan adek-adek saya di Prasasti, dan Prasasti adalah salah satu fondasi saya menjadi diri saya saat ini. Prasasti merupakan komunitas pecinta karawitan yang didirikan oleh (dulu) mahasiswa Sasing angkatan 2009 di tahun 2011. Waktu itu saya masih sophomore yang naive halah, dan untuk me-redeem diri saya sendiri yang suka sama budaya negara lain, saya belajar pula mencintai gamelan dan karawitan. Dari situ dan seterusnya sampai bahkan sekarang sudah lulus, Prasasti masih terus berjalan dan tetap berada di hati setiap anggotanya dari generasi pertama. Dan karena itulah, ketika saya diminta tolong untuk membantu, ya saya bantu dengan senang hati.

Nah ini yang bikin badan jadi oleng. Ketika saya sangat aktif di Prasasti dulu, saya masih berstatus mahasiswa. Pun ketika skripsi berjalan dan saya sudah berada di ambang kelulusan dari yujiem, saya cukup gabut sehingga tidak mengganggu fisik saya ketika masih aktif di Prasasti. Tapi semua berubah ketika negara api menyerang. Kemarin saya sibuk di Prasasti, belum lagi kewajiban saya nyambut gawe di kampus seberang jalan Kaliurang, belum lagi ditambah belajar buat IELTS dan tentu saja begadang untuk nonton Produce 48, plus saya harus pulang-pergi ke Kudus untuk menyita kamera DLSR-nya Papa, akhirnya saya demam tinggi banget dan literally tepar.

Dan saya 3 hari nggak masuk kerja. Tapi tetep nonton Produce 48.

Terus kan jadi semacam kehabisan waktu untuk belajar gitu. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak membuka blog sama sekali demi bisa mengejar ketertinggalan saya akan materi IELTS. TAPI ya nasib aja sih, sampai detik-detik terakhir pun saya tidak kunjung belajar. Satu setengah jam sebelum saya tes pun, saya cuma sempat browsing tentang tips and trick gimana dapet skor IELTS yang tinggi. Eh, apa perlu kita bahas tips and trick IELTS juga di blog ini? Yawla nanti blog ini tambah random gaes nggak jelas konsepnya apa ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Anyways, karena semua itu sudah selesai, sekarang saatnya kembali ke kesibukan awal yaitu nyambut gawe nyambi blogging haha. Kemaren saya beli Mamonde Creamy Tint Color Balm Intense yang No. 23 Brick Rose, dan saya suka banget❗❗❗❗ Nendang banget oyeeeeeeeee❗❗❗ Jadi mungkin besok-besok saya mau nge-review itu.

Oh ya, terakhir sebelum menutup ini, saya mau bilang kalau saya sudah ikhlas Matsui Jurina mundur dari Produce 48. Dua minggu saya being miserable karena ini, tapi melihat lagi beberapa VTR yang ada Jurina-nya, saya ngerasa dia terlalu kurus untuk menjadi seorang manusia, jadi duh dek istirahatlah. Walaupun saya sudah nggak punya jagoan lagi buat debut di Koreya, tapi saya mendukung agar supaya Miyawaki Sakura bisa jadi center grup yang nantinya debut dari Produce 48 (hahahahaha apa itu namanya nggak ngejagoin ya hahahahaha). Kalau dari segi personality saya suka banget sama Ahn (Anh?) Yujin, sama Choi Yena. Kalau dari segi vokal saya suka Jang Gyuri. Kalau dari segi... apa ya? Nihonjin yang kudu ikut debut, ya tentu saja Takeuchi Miyu dan Honda Hitomi. Kalau Miyazaki saya hanya kasihan saja karena dulu seharusnya dia terkenal banget.

Duh Sakura-chan kamu makan janin bayi apa gimana sih kinclong amat ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ
Udah gitu aja dulu ya. Postingan ini sangat random, mohon dimaklumi dan dimaafkan. Besok ketemu lagi (semoga), dengan konten yang mungkin lebih random lagi.

Salam damai Indonesiaku!

[FICTION] ORIGINAL ONESHOT: Katsudon

Title : Katsudon

Author : Pudy Kusumaningrum (pudy_k)

Genre : Teenlit, pop literature, romance, daily life

Type : One Shot (1686 words)

Rating : PG
CROSS-POSTED ON WATTPAD on August 1 2018.
A/N : Actually not the first time I write an entirely original fiction of my own, but probably the first time I publish it and make it available to the world. Well, I don't know though, because the main idea came from my very old fanfiction written in Bahasa Indonesia. Thus, I couldn't think of any other name beside the characters name in this fiction so I really don't know. I'll let you decide.
Disclaimer : My original fiction.
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

 Cover :  Photo by Tan Danh from Pexels

"Often times people say that when you’re madly in love with somebody, you will be able to do crazy things for them. Often times Hikaru thinks they’re wrong. Things that you do when you’re in love, you do it for love, voluntarily, willingly, unforcefully. In fact, it should be labelled as just something normal as everything else that you do for yourself in your everyday life."

[Challenge] #3 Review A Book/Movie/Anything


Book Review : Prayers in the Emergency Room
Original Title : ็—…ๅฎคใงๅฟตไปใ‚’ๅ”ฑใˆใชใ„ใงใใ ใ•ใ„/Byoushitsu de Nenbutsu wo Tonaenaide Kudasai)
Publisher : PT. Gramedia  Pustaka Utama–M&C

Today's Book Review: Prayers in the Emergency room
I’ve recently been reading a manga (or Japanese comic) entitled Prayers in the Emergency Room (Japanese: ็—…ๅฎคใงๅฟตไปใ‚’ๅ”ฑใˆใชใ„ใงใใ ใ•ใ„/Byoushitsu de Nenbutsu wo Tonaenaide Kudasai), from the mangaka Tamayo Koyasu. In Japan, it was released around 2012, and Indonesian book distributor PT. Gramedia Pustaka Utama–M&C bought its translation license in 2015, before publishing the series in the whole nation in 2016. I’m interested with this book because it has unusual yet interesting premise; a doctor who is also a Buddhist monk. Along with various medical terms that give us more knowledge about this field, we can also see the Japanese culture and common mannerism clearly in this manga, and you might not be able to help to wonder if the same concept were actually performed in our own culture or not. At least that is how I feel, when comparing this manga to some cheap local soap opera in Indonesia.

Prayers in the Emergency Room is more of a light narrated kind of manga. It has fun elements but deep in meaning, for we are somehow given Buddhist wisdom throughout each stories about someone’s life and soul. However, since the story is one hundred percent set in the Emergency Room, although I have only read one and a half volume of the manga, I can say that it does not always end pleasant for everyone, even for the main protagonist himself.

The manga starts with an emergency phone call to Aoba Dai Hospital and Dr. Miyake looking for Dr. Shoen Matsumoto, the emergency doctor slash hospital chaplain—a clergyman officially attached to a branch of the military, to an institution, or to a family or court (defined from Merriam Webster Dictionary)—who is apparently reading Sutra for a patient who’s just died. The story then comes about from there on around how Dr. Matsumoto, who is rather idealist, always tries hard to keep his patients alive no matter the situation. He is very stubborn in his job and his own fathom saying that all lives matter no matter what they have done. This idea is developed from Dr. Matsumoto’s past trauma, where he watches his friend drowning without being able to do anything to save him. In favor to his dearest friend, Dr. Matsumoto persists in being a monk and an ER doctor at the same time.

Prayers in the Emergency Room Vol. 1 cover
Although Dr. Matsumoto is a monk, and we all know monks should not bound to worldly pleasure or carnal desires and ought to dedicate his life to the way of Buddha, he doesn’t follow Buddha’s doctrine; he still eats meat and drinks alcohol, as well as buying lottery and being angry with people that he finds iritating. When he was being asked why he’s still consuming those, the answer coming out of his mouth, nevertheless, as expected, is wise and holy-sounded, for instance, as quoted from his dialog in Volume 1, he said, “It is part of Buddhist teaching to respect foods and drinks by not wasting them away,”. He also shuts his annoyed friends down by saying, “Buddha also teaches to respect personal opinion. Thank you,” before running away. My favorite rebuttal from Dr. Matsumoto is when he’s confronted by the hospital’s Office Lady who says he’s too bounded to his worldly misfotune in Volume 2, and Dr. Matsumoto wisely replies, “Carnal passion provide motivation to all of us, it shouldn’t be stopped forcibly! By carrying out these carnal passions, passing through indecision and suffering, the way for those who seek enlightenment will be open.”

Other funny things that Dr. Matsumoto will unconsciously do are, for example, running down the hospital hallway wearing Hangesa—a garment worn by Japanese Buddhist monks—and patients who see him will be anxious and left wondering whether any mishap is actually happening, and reading Sutra in the dead of night and scare the life out of the patients, providing us with a good cackle.

Prayers in the Emergency Room Vol. 2 Cover
 As I have stated above, this light and fun manga also have grim side of its own. Some patients don’t make it out from the operation room, leaving their dearest family with tears behind. Some can pass through their situation. As naรฏve as he is, Dr. Matsumoto turns himself into some kind of magical creature—not literally, most probably because he’s the main antagonist—who is able to speak to the patients and their families regarding their condition. He can convince a resident doctor to save the lives of everyone who come in to the Emeregency Room without dividing them into ‘necessary’ and ‘unnecessary’. He also pushes his own value to a cancer patient, making the patient able to accept his condition and starts coming to the Prayer Room every afternoon.

I do state at some points about Japanese culture and common mannerism in Prayers in the Emergency Room. We see doctors bow to the patients family when they are given the permission to do operation, as well as they announce the final death of the patients to their family members. This manner exists in all aspects in Japan. You see, when you’re in a train car during a train trip to somewhere in Japan, you will see the train conductors and captains bow to you when they’re about to move from one car to another. The handling of patients is also very quick and effective. I don’t understand about standard operating procedures of medical treatments in hospital, but in my opinion, this common sense that is held firm by Japanese doctors in general should be applied to all doctors in the world.

Licensed & All Rights Reserved.
Finally, as a conclusion, this post should be a light review of a manga as a part of my writing challenge, but it turns out to be a goddamned essay. The feeling of writing this kind of thing reminds me of the time I was still a literature student, therefore it feels really easy the time I start typing this review’s first sentence. If I were to continue talking about Japanese culture as depicted in Prayers in the Emergency Room in this sort-of essay, this whole thing might be around 2500 words and I don’t want it. I can assure you one thing though: it’s a manga worth reading. Don’t ever think that mangas and comics are just for kids; your kids who read manga and watch anime, they might have higher life value than you are. Manga like Prayers in the Emergency Room teaches us to respect life and respect the creation of God, Buddha, whatever you believe is the Creator of Universe, no matter how sinful those humans are. And if you are a doctor or wanting to be one, remember that all lives matter. Values like this should be applied everywhere around the world, not just in Japan in particular. Therefore, go to Gramedia nearest your place now and buy this amazing manga right now!
 
Thank you for your time and attention and willingness to read this manga/book review. I still have plenty to write as my writing challenge is going. Let’s meet again the day after, in my next post, in the next, next, and next. Bye bye ๐Ÿ’“๐Ÿ’“