[REVIEW] Movie: Peppermint (2018)

Halo, selamat hari Senin. Semoga hari pertama kerja Anda menyenangkan.

Hari ini saya ingin menulis movie review yang sudah lama ingin saya lakukan. Movie review kali ini adalah film Hollywood yang dibintangi oleh aktris A-List yaitu Jennifer Garner. Judul film-nya adalah Peppermint (2018). Seperti yang sudah-sudah, film ini tidak terlalu mendapatkan respons yang positif di Rottentomatoes karena pemeran utamanya adalah perempuan, meski memiliki premis yang bagus. Entahlah, mungkin selera saya yang terlalu kacau, tapi saya pribadi memberikan nilai sebagai berikut :

⭐⭐⭐ 3.75/5

Peppermint (2018) poster courtesy: imbd.com
Warning: Spoiler alert!!!!

Bagi yang ingin menonton dan tidak suka diberi spoiler silakan skip saja. Saya sudah memperingatkan, jadi mohon kita bisa saling respek kedepannya. Yuk, mari kita menjelajahi ruang dan waktu dengan film Peppermint ini.


(Movie review is in Indonesian)



Mungkin cara otak saya bekerja ini sebenernya jauh lebih sederhana dari yang saya bayangkan. Pasalnya, ketika pergi ke bioskop untuk menonton film The Predator (2018), saya menemukan satu trailer film yang rasanya bagus banget dan sayang untuk dilewatkan. Film tersebut berjudul Peppermint, dengan pemeran utama Jennifer Garner, yang saya tahu dari film seperti 13 Going on 30 dan Dallas Buyers Club. Kesan pertama yang saya dapatkan dari film ini adalah, oh, premisnya sebelas-duabelas dengan John Wick, tapi dengan pemeran utama perempuan. Saya kemudian tertarik dan pergilah saya nonton Peppermint ini, dan saya tidak kecewa.

Dari berbagai sumber di internet, saya menemukan bahwa banyak yang meragukan apakah Jennifer Garner bisa memerankan wanita yang terluka terlalu dalam yang kemudian membalaskan dendamnya dengan cara yang brutal. Tapi menurut saya, Garner bisa mengekspresikannya dengan sempurna; seorang ibu rumah tangga biasa yang terpaksa harus mengembangkan dirinya sendiri karena seluruh keluarganya dibunuh oleh kawanan gembong narkoba. Aksinya sungguh heroik dan keren.

Kita tahu bahwa film-film action layaknya John Wick atau bahkan The Punisher (Marvel) agak tidak masuk akal jika dikaitkan dengan pemeran utamanya yang selalu bisa bertahan hidup sampai di ujung cerita, walaupun dagingnya sudah terkoyak dan mereka seharusnya sudah kehabisan terlalu banyak darah untuk bisa berjalan. Saya tidak ingin membicarakan tentang detail plotholes dan sebagainya di post ini.

Pertama, dari segi latar belakang mengapa Riley North (Jennifer Garner) sangat berambisi untuk membalaskan dendam keluarganya. Alasannya sangat logis dan kita bisa melihat cerminannya di masyarakat. Ya, meski satu daerah dan daerah lain berbeda (apalagi dalam hal ini, antar satu negara dengan kultur tertentu dan negara lain dengan kultur yang berbeda pula) tapi kita tahu bahwa terkadang sistem juridiksi tidak bisa diandalkan. Meskipun berbeda antara kultur Amerika dan Indonesia, misalnya, kita tahu bahwa oknum korup di sistem peradilan itu memang ada; jaksa penuntut umum yang dibayar untuk menjegal saksi, dan hakim yang membebaskan tersangka meskipun bukti-bukti sudah ada di tangan. Hal-hal itulah yang membuat simpati kita ditarik oleh Riley North secara tidak langsung. Riley bahkan dituduh gila oleh jaksa penuntut umum. Apakah itu tidak cukup membuatmu merasa marah dan mendidih di kursi bioskop?

Entah suami dari Riley North ini sebenarnya bekerja sebagai apa dan mengapa ia bisa sampai diajak untuk merampok gembong narkoba, tapi yang saya tangkap adalah toko tempat di mana suami Riley bekerja mengalami kebangkrutan. Dan meskipun pada akhirnya sang suami sudah menolak ajakan untuk merampok itu, mereka sekeluarga tetap menjadi sasaran karena telah dianggap membahayakan bisnis kotor gembong narkoba Garcia. Pada akhirnya hanya Riley yang selamat, meskipun kita sadar bahwa sistem peradilan yang korup itu berharap seharusnya dia ikut menjadi korban saja. Riley kemudian menghilang selama 5 (lima) tahun dengan secara konsisten berganti-ganti identitas untuk mengelabuhi pihak berwajid (dan FBI), sebelum akhirnya, 5 tahun setelah kematian keluarganya, Riley yang tadinya hanya ibu rumah tangga biasa, muncul dengan lengan yang sudah kotak-kotak dan kemampuan nonjok yang luar biasa.

Yang saya suka dari film-film semacam ini adalah: pertama, akurasi headshot. Kalau kamu adalah fans dari John Wick—saya kurang paham dengan gaya tembak-tembakan The Punisher, tapi—kamu pasti bisa melihat John Wick selalu membidik kepala. Begitu pula dengan Riley North. Dia 80% selalu membidik ke kepala karena di situlah yang paling vital untuk manusia dan tentu saja untuk memastikan ia sudah berhasil menghabisi musuhnya. Tapi kemudian di akhir Riley membidik Garcia tepat di wajah hingga wajahnya rusak. Diceritakan pula di sana Garcia sudah mati, tapi kita tidak tahu.
Foto Riley North dari imdb
Hal kedua adalah plot twist. Saya suka dengan plot twist karena di situlah letak kedalaman sebuah karya, menurut saya pribadi. Pada awalnya kepala saya berkata bahwa Detektif Beltran, seorang detektif kepolisian yang sudah senior di bidangnya, adalah salah satu pendukung kartel Garcia di kepolisian, dan mungkin, Detektif Carmichael, seorang detektif yang baru diangkat di kepolisian, akan menjadi protagonis yang membantu Riley North dalam melaksanakan aksi vigilante-nya. Saya menyimpulkan demikian karena pada awalnya, detektif senior Beltran-lah yang mewanti-wanti Detektif Carmichael untuk berhati-hati dalam mengungkap kasus yang berhubungan dengan katel Garcia. Tapi ternyata bukan, dong. “Orang dalam” yang selalu disebutkan di sepanjang film itu ternyata adalah Detektif Carmichael, dan Detektif Beltran-lah yang malah membantu Riley North untuk bebas pada akhirnya. Mungkin karena dia merasa berhutang kepada Riley karena telah berhasil menguak kebusukan departemennya sendiri yang selama ini bersembungi di bawah hidungnya.

Kalau dilihat dari beberapa plothole-nya saja, semisal kartel yang lebih besar daripada kartel Garcia yang stok narkobanya disabotase dua kargo oleh Riley, mungkin sama seperti trilogy John Wick, mereka juga mungkin akan mengincar Riley kedepannya.

Sayangnya, meskipun saya sebagai penonton sebenarnya sangat menikmati film ini, tapi kebanyakan kritik di website seperti Rottentomatoes sepertinya tidak demikian. Banyak yang mengatakan bahwa film ini hanya mengandalkan pemeran utama perempuan (dan kekuatan nama Jennifer Garner) serta merupakan film ‘feminisme’ yang gagal. Saya tidak mengerti mengapa banyak kritik mengatakan demikian. Feminisme dalam suatu karya seharusnya tidak sedangkal itu. Perjuangan seorang manusia untuk mendapatkan keadilan tidak ada hubungannya dengan apakah dia seorang laki-laki atau perempuan. Kalau dia memang capable dalam melaksanakan sesuatu, apakah jika orang itu adalah seorang perempuan maka dia akan segera dikategorikan sebagai film feminis yang gagal, seperti misalnya Ocean’s 8? Saya tidak mengerti mengapa banyak orang, bahkan kritik sekalipun, kurang mengerti tentang common sense.

Review dari Rottentomatoes yang kebanyakan menilai jelek

Satu-satunya yang saya setuju dari banyak kritik di atas adalah stereotip. Pemilik kartel/gembong narkoba Garcia adalah seorang keturunan Meksiko, dan selain warga berkulit hitam, di Amerika Serikat sendiri gengster-gengster seperti ini selalu distereotipkan sebagai orang-orang dari bangsa Amerika Tengah/bekas USSR. Memang hal itu bukanlah hal yang baik, bahkan bisa lebih diperbaiki lagi jika penulis skenario dan/atau orang-orang yang terlibat di dalam produksi film ini lebih memperhatikan detail seperti itu daripada terus mempropagandakan hal yang sama.

Hal lain yang ingin saya tertawakan adalah sensor yang ada di film ini; salag satu karakter di sana mengacungkan jari tengah ke kamera, tapi oleh lembaga sensor acungan jari itu disensor, dong. Padahal film Peppermint ini menurut saya cukup gore. Kan lucu? Haha.

Jadi, secara singkat bisa saya katakan, saya menyukai premis Peppermint dan aksi Jennifer Garner sebagai Riley North di film ini, dan saya tidak mempermasalahkan sisi 'feminisme' yang dipermasalahkan oleh banyak kritik, karena sepertinya kami berada di jalur yang berbeda dalam memberikan pemaknaan terhadapnya. Tapi saya setuju tentang kecenderungan rasisme yang ada dan stereotipikal yang digambarkan dengan jelas di Peppermint. Oleh karena itu, saya memberikan bintang 3 ⭐⭐⭐ dari total skor 5 dan nilai 3.75 kepada film Peppermint ini.

Recommended?

Tentu saja. Film ini tidak se-absurd Mission Impossible dan The Darkest Mind. Jadi, mengapa tidak?

Sekian movie review dari saya, ya. Selamat menjalankan hari Senin dan semoga selalu diiringi Berkah oleh Pemberi Hidup. Salam sejahtera!

Referensi
IMDB https://www.imdb.com/title/tt6850820/?ref_=ttmi_tt
Rottentomatoes https://www.rottentomatoes.com/m/peppermint_2018/

No comments:

Post a Comment