[REVIEW] Movie: Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212


Mumpung masih fresh dan belum lupa-lupa banget, saya ingin menulis review untuk film terbaru Indonesia berjudul, Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, yang dirilis di bioskop-bioskop tanah air sejak 31 Agustus 2018 yang lalu.

Pertama saya ingin sekali mengucapkan selamat, karena filmnya tergolong sukses. Merinding juga waktu pertama kali diputer dan ada opening dari 20th Century Fox, udah serasa mau nonton film Hollywood gitu. Apalagi, siapa yang tidak kenal Wiro Sableng? Dia adalah pahlawan semua orang sejak pertama kali muncul di media cetak dan televisi. Kalau saya, pengalaman pertama saya menonton series Wiro Sableng adalah dulu ketika masih kecil. Diciptakan oleh (alm.) Bastian Tito, ayah dari Vino G. Bastian pemeran Wiro Sableng live action, Wiro Sableng punya banyak sekali kenangan di kepala saya. Nonton film-nya pun jadi yang terkagum-kagum wah keren wah keren gitu, karena selain merasakan flash back ke masa lalu, juga terkesan dengan garapan film itu sendiri. Jadi, saya review, ya.

SKOR : ⭐⭐⭐ 3.5/5

Poster Courtesy bioskoptoday.com
WARNING!!! Dari sini konten post akan banyak mengandung spoiler. Jadi semisal kamu belum nonton dan ingin menonton, diusahakan untuk skip review ini saja. Kecuali kalau kamu ada tendensi masokis, sila dibaca, tidak apa-apa.

Oh iya, disclaimer dulu, sebelumnya saya mau bilang kalau saya tidak mengerti tentang detail dari pembuatan sebuah film, jadi semisal ada yang salah dalam pengkategorian atau penamaan tertentu, saya terbuka dengan masukan dan koreksi dari Anda semua. Sebagai tambahan, ini adalah review jujur saya dari apa yang saya rasakan sendiri ketika menonton Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, dan karena perbedaan pendapat itu sah dan diatur oleh Undang-Undang, jadi saya terbuka juga jika ada yang tidak setuju.


AKTOR
Untuk sebuah proyek besar yang nostalgic seperti ini, saya tidak heran kalau cast-nya sebagian besar adalah aktor-aktor dan aktris-aktris ternama, meskipun karakter yang diperankan adalah karakter minor yang tidak banyak punya scene dan dialog. Saya yakin mereka rela dengan sedikitnya screen time yang didapat demi bisa menjadi pendukung dan penyempurna film live action Wiro Sableng ini. Seperti Marcella Zalianti, misalnya. Namanya sudah sangat harum di dunia perfilman, kalau versi Hollywood tentu dia salah satu aktris kelas A. Tapi di live action Wiro Sableng, Marcella yang berperan sebagai permaisuri hanya punya slot dialog satu atau dua kata selama hampir 2 jam durasi. Terus ada juga Ence Bagus yang bahkan namanya nggak tercantum di IMDb, yang jadi bapak-bapak pemilik warung waktu pertama kali si Pangeran diburu sama bandit. Mungkin Pak Ence jatohnya cameo ya.

Untuk film ini saya juga melihat banyak sekali aktor dan aktris yang sangat semangat untuk memerankan scene action mereka sendiri. Standarnya kan, seperti kebanyakan film action lainnya (mungkin selain Iko Uwais, Joe Taslim, dan Yayan Ruhiyan) mereka lebih sering menggunakan stuntman untuk scene-scene yang beresiko tinggi. Tapi, salut 100%, karena bahkan Marcell Siahaan yang jadi pemeran bapaknya Wiro pun berusaha melakukan koreografinya sendiri. Saya lihat scene pertama yang si Mahesa Birawa (Yayan Ruhiyan) hendak mencelakai keluarganya Wiro, Marcell sebagai Ranaweleng mempraktekkan koreografi pencak silat yang cukup baik, meskipun masih kelihatan kagok, lambat, dan njomplang dengan fighting koreografi lainnya di sepanjang film.


SINEMATOGRAFI
Oke, ini salah satu yang terbaik dari film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212: sinematografi yang ciamik dan pemandangan yang cantik banget. Terlepas dari realitas yang ada, setiap scene statis selalu dibuat seestetis mungkin dan sealami mungkin. Misalnya ketika kawanan rampok si Mahesa Birawa pertama kali muncul, itu dibuat siluet dengan background bulan merah yang besar, sudah macam nonton film-film samurai dari Jepang, tapi dengan balutan khas Indonesia abad pertengahan. Banyak pula adegan-adegan yang sepertinya sengaja dibuat simetris ketika cuma ada satu atau dua orang dalam scene teresebut. Untuk saya yang suka dengan gambar-gambar simetris, tentu saja itu nilai plus.

Tidak cuma scene statis, banyak pula scene bergerak berupa fighting sequence yang oke punya. Saya pertegas lagi, oke punya. Mungkin kecuali ketika sequence pertama sama Marcell. Omong-omong, fighting sequence kalau di-Bahasa Indonesia-kan adalah adegan berantem, gitu. Dan saya tidak merasa kecewa sama sekali karena saya tahu Pak Yayan Ruhiyan adalah pembuat koreografi berantem terbaik yang dimiliki sineas Indonesia. Menurut saya adegan berantem terbaik di Wiro Sableng adalah ketika Wiro pertama kali turun gunung terus ketemu gerombolan banditnya Kalingundil di warungnya Ence Bagus, itu sumpah bagus banget. Dari ribut-ributnya sampai cara Wiro menghadapi orang-orang yang nyaris bukan urusan dia, semuanya tertata rapi. Saya rasanya kepengen kasih 4 jempol untuk penata sinematografi dan kameraman-nya Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, selain sutradaranya tentu saja.

PLOT
Dari segi plot, Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 film/live action ini sangat sederhana. Alurnya kira-kira hanya seperti ini: kampung Wiro diserang orang tua Wiro dibunuh oleh Mahesa Birawa Wiro diselamatkan oleh Sinto Gendheng Sinto Gendheng mengangkat Wiro sebagai muridnya dan memberikan warisan berupa kapak maut naga geni Sinto Gendheng meminta Wiro untuk membawa Mahesa Birawa kembali ke Gunung Gedhe Wiro turun gunung dan menemukan bahwa Mahesa Birawa sedang melancarkan kudeta ke kerajaan Wiro membantu menyelamatkan keluarga kerajaan kelompok Raja beserta Wiro dan kawan-kawan berhasil membendung kudeta dan membunuh semua anggota kudeta termasuk adik sang Raja dan Mahesa Birawa. Simpel banget, tapi dengan begitu aspek-aspek lain dalam film bisa ditonjolkan, misalnya kepolosan dan kelucuan Wiro Sableng, sinematografi surealis yang sangat bagus, fighting sequence, dan efek-efek lainnya.

OPINI
Sayangnya, saya harus mengatakan di sini bahwa dari segi plot banyak sekali plothole di live action Wiro Sableng ini. Saya mendukung sepenuhnya kalau semisal Wiro Sableng hendak dibuat heroes universe versi Indonesia, karena memang bagus dan Indonesia butuh sinema berkualitas yang seperti ini. Namun sekali lagi, plothole itu ada dan tidak bisa ditutupi. Tidak apa-apa, karena itu masih bisa menjadi motivasi agar kedepannya lebih baik lagi, karena seperti dilihat di mid-credit scene, film ini pasti ada sekuelnya.

Omong-omong, beberapa plothole yang saya temukan antara lain adalah motif Mahesa Birawa membumihanguskan desa-nya Ranaweleng. Pada awalnya Mahesa Birawa mengatakan ke anak buahnya untuk “tidak menyentuh(atau membunuh?) apa yang menjadi miliknya”, tapi pada akhirnya Mahesa Birawa membunuh ayah dan ibu Wiro, sebelum mencoba membunuh Wiro dengan melemparkannya ke bara api. Awalnya saya kira Mahesa memiliki motif khusus, seperti misalnya Wiro memang dilahirkan dengan kekuatan khusus yang belum ia ketahui, atau ada semacam ramalan bahwa suatu saat Wiro akan mengalahkannya. Tapi sampai akhir cerita konklusi itu sama sekali tidak bisa ditarik. Jadi orang tuanya Wiro dibunuh untuk apa? Apakah murni hanya untuk harta saja? Lalu mengapa pada adegan pertama itu para bandit seperti sengaja mencari Wiro, dan selama film berlangsung Wiro selalu disebut sebagai “anak haram” oleh Mahesa Birawa?

Selanjutnya adalah motif Nenek Sinto Gendheng yang meminta Wiro untuk membawa Mahesa Birawa kembali ke Gunung Gedhe. Tapi Sinto Gendheng tidak menunggui Wiro di tempat di mana mereka tinggal selama 17 tahun. Begitu Wiro dilepaskan ke dunia yang sesungguhnya, Sinto Gendheng kembali pergi mengasingkan diri, dengan mengatakan bahwa jika memang takdir mereka akan bertemu lagi. Selama pencarian Mahesa Birawa pada mulanya niat Wiro adalah untuk membawanya ke Gunung Gedhe seperti yang diminta oleh Sinto Gendheng, tapi ketika pertama kali mereka adu muka di hutan, niat kedua Wiro adalah untuk membunuh Mahesa, yang mana akhirnya berhasil di scene terakhir. Di sini saya mendapati diri saya terjebak di sebuah konflik batin.

Lalu banyak tokoh-tokoh yang kurang terlalu jelas penggambarannya, seperti Marsha Timoty yang bisa tembus dinding dan terbang bak peri, misalnya. Di IMDb saya menemukan bahwa nama karakternya adalah Bidadari Angin Timur, tapi kemunculannya di film ini terlalu random. Tidak dijelaskan motifnya membantu Wiro ketika ia pertama kali muncul, dan tidak ada satupun karakter yang peduli siapa dia bahkan ketika tiba-tiba muncul di fighting sequence terakhir. Ia bahkan tidak menyebutkan namanya sama sekali selama film diputar.

Kerandoman lainnya saya temukan di tubuh kawanan bandit Mahesa Birawa. Secara visual sumpah keren banget mereka. Villain yang visual-nya paling saya suka adalah si jubah merah yang punya kekuatan bisa memasang CCTV di mata burung hantu seperti layaknya Freya di The Huntsman, dan bandit muda berambut panjang lurus mulus dan maksud saya adalah yang rambutnya paling mulus di seluruh film Wiro Sableng ini, yang memakai beskap keemasan dan membawa payung ketika melancarkan kudeta di dalam kawasan keraton yang gayanya terlihat seperti versi genit dari Urushibara Ryo di Crows Zero. Sumpah secara visual kedua karakter jahat ini sangat luar biasa indah, tapi keberadaan mereka terlalu random sehingga bahkan saya tidak ingat siapa nama mereka. Barulah ketika saya search di official instagram Wiro Sableng saya tahu siapa mereka: Iblis Pencabut Sukma dan Pendekar Pemetik Bunga. Bahkan nama mereka pun tidak pernah disebutkan di filmnya! Random sekali. Tidak apa-apa, walaupun mereka sudah mati di film, saya suka dengan aksi mereka yang random itu. Kekecewaan terbesar saya terjadi ketika Pendekar Pemetik Bunga mati begitu saja di tangan panah Anggini. Saya sejujurnya mengira dia akan sedikit lebih kuat.
Hal lain yang saya suka dari Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 adalah setting-nya yang benar-benar ala abad ke-16, yang belum terjamah oleh VOC. Saat itu kira-kira yang baru masuk adalah Bangsa Portugis di teluk-teluk Jawa bagian utara, dan penduduk dan Raja masih menganut ajaran Hindu. Hal ini bisa dilihat dari patung Dewa Wisnu yang ada di Keraton Kerajaan. Tapi saya agak menyangsikan kebenaran pemasangan patung dewa di dalam rumah. Tidakkah seharusnya patung sebesar itu biasanya hanya ada di candi-candi? Mungkin demikian.

Oh saya mau menambahi satu lagi. Vino G. Bastian kalau gondrong ganteng juga ya hehe, dan yang paling saya suka tetap mid-credit scene-nya, karena ada aktor favorit saya nongol tanpa ada aba-aba: Abimana Aryasatya. Saya langsung jatuh doki-doki.
Rasanya celotehan saya sudah sangat ngawur pada post ini. Yang mana pada awalnya saya cukup menggunakan kalimat menuju formal, menjadi sangat acak kadut kebawah-bawah. Sepertinya cukup sampai sini saja review film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 ini. Untuk score, saya memberikan ⭐⭐⭐ bintang dan skor 3.5/5 karena saya suka dan saya ingin cepat-cepat menonton sequelnya dengan Om Tampan Abimana Aryasatya sebagai Pangeran Matahari.

Yang saya harapkan dari semua kru, staff, dan siapapun yang terlibat dalam pembuatan film universe Wiro Sableng kedepannya agar supaya jauh lebih baik lagi adalah: mohon plot juga diperhatikan oleh penulis naskah dan sutradara, penggunaan CGI tolong diperbaiki, dan untuk aktor yang belum berpengalaman dengan pencak silat dan tidak ingin menggunakan stuntman, mohon dengan sangat untuk berlatih lebih giat lagi sehingga terlihat alami.

Terima kasih atas perhatian yang diberikan. Sampai jumpa di post selanjutnya, teman-teman!


No comments:

Post a Comment